Beritabanten.com – Ada kalimat yang terdengar sederhana, tetapi sering terasa sangat nyata dalam kehidupan kota: semua akan terlihat lebih indah kalau ada duitnya.

Pergi kerja tidak selalu semata-mata karena mengejar karier. Ada cicilan yang harus dibayar, biaya sekolah anak, tagihan rumah tangga, kebutuhan orang tua, sampai harga makanan yang terus bergerak.

Di tengah kehidupan kota yang serba cepat, uang memang bukan satu-satunya sumber kebahagiaan. Namun, persoalan keuangan yang tidak terkendali bisa menjadi salah satu sumber tekanan terbesar dalam kehidupan rumah tangga.

Pakar perencanaan keuangan keluarga Prita Hapsari Ghozie dalam berbagai edukasi keuangannya kerap menekankan pentingnya mengatur keuangan berdasarkan kebutuhan dan tujuan hidup, bukan sekadar mengikuti keinginan.

Prinsip tersebut semakin relevan ketika masyarakat perkotaan berhadapan dengan godaan konsumsi yang datang hampir setiap hari. Tantangannya bukan hanya bagaimana mendapatkan penghasilan besar, tetapi juga bagaimana membuat penghasilan tersebut cukup untuk hari ini dan masa depan.

Sebab, kenaikan penghasilan tidak selalu membuat seseorang merasa lebih kaya. Ketika pendapatan bertambah, standar hidup sering ikut naik. Rumah yang dulu terasa cukup mulai dianggap sempit, kendaraan ingin diganti, makan di tempat biasa bergeser ke restoran yang lebih mahal, dan liburan yang dulu setahun sekali menjadi lebih sering.

Inilah jebakan gaya hidup yang mengikuti pendapatan. Seseorang bisa memperoleh penghasilan lebih besar, tetapi tetap merasa kekurangan karena pengeluarannya ikut membesar.

Bekerja tentu penting. Namun, bekerja tanpa pengelolaan keuangan hanya membuat seseorang berputar dalam siklus yang sama: menerima gaji, membayar kewajiban, memenuhi keinginan, lalu kembali menunggu gajian berikutnya.

Dalam perencanaan keuangan keluarga, pendapatan idealnya memiliki tujuan yang jelas. Ada uang untuk kebutuhan rutin, dana darurat, perlindungan kesehatan, tabungan atau investasi, serta ruang untuk menikmati hasil kerja.

Anggaran bukan alat untuk membuat hidup menjadi pelit. Justru dengan anggaran, seseorang dapat mengetahui berapa banyak uang yang aman digunakan untuk bersenang-senang tanpa mengganggu kebutuhan utama.

Menikmati hasil kerja bukan sebuah kesalahan. Yang menjadi persoalan adalah ketika kesenangan hari ini dibayar menggunakan kemampuan keuangan masa depan.

Di kota besar, persoalan tersebut semakin kompleks karena lingkungan sosial ikut membentuk standar kehidupan. Media sosial memperlihatkan orang makan di restoran mahal, membeli barang baru, berlibur, hingga merenovasi rumah.

Tanpa disadari, seseorang bisa merasa tertinggal hanya karena melihat kehidupan orang lain. Padahal, yang terlihat di layar hanyalah potongan kehidupan.

Tidak terlihat berapa besar cicilannya, berapa banyak utangnya, atau apakah barang tersebut dibeli secara tunai maupun kredit. Tidak terlihat pula apakah gaya hidup itu benar-benar membuat pemiliknya bahagia.

Uang memang dapat membeli banyak hal yang membuat hidup lebih nyaman. Uang dapat membayar tempat tinggal yang layak, makanan bergizi, pendidikan, transportasi, layanan kesehatan, dan rekreasi.

Karena itu, mengatakan uang tidak penting juga tidak sepenuhnya benar. Persoalannya muncul ketika uang dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan hidup.

Keluarga dengan penghasilan besar belum tentu lebih bahagia daripada keluarga dengan penghasilan lebih sederhana. Hubungan yang sehat, waktu bersama keluarga, kesehatan, rasa aman, dan pekerjaan yang bermakna juga menentukan kualitas hidup.

Dalam konteks itu, kerja nyata dan bahagia bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Bekerja memberikan penghasilan, mengelola penghasilan memberikan rasa aman, sementara menggunakan sebagian hasil kerja untuk keluarga dan pengalaman dapat memberikan kebahagiaan.

Kuncinya adalah keseimbangan.

Salah satu jebakan kehidupan kota adalah meningkatnya penghasilan yang langsung diikuti meningkatnya pengeluaran. Ketika gaji naik, kebutuhan baru bermunculan dan standar hidup ikut berubah.

Karena itu, kenaikan pendapatan sebaiknya tidak seluruhnya diterjemahkan menjadi kenaikan gaya hidup. Sebagian dapat digunakan untuk memperkuat dana darurat, melunasi utang, menyiapkan masa depan, atau membangun investasi.

Dengan cara itu, seseorang tidak hanya terlihat sukses, tetapi juga memiliki fondasi keuangan yang lebih kuat. Sebab, ukuran keberhasilan finansial bukan hanya seberapa besar penghasilan, melainkan seberapa baik seseorang mengendalikan uang yang diperolehnya.

Pada akhirnya, hidup memang harus dinikmati. Bekerja keras tanpa pernah merasakan hasilnya juga bukan gambaran kehidupan yang ideal.

Ada waktunya makan enak, jalan-jalan, membeli sesuatu yang disukai, menonton film, berolahraga, atau membawa keluarga berlibur. Namun, kebahagiaan tidak selalu harus mahal.

Kopi bersama pasangan, makan malam sederhana bersama anak, berjalan di taman, mengunjungi orang tua, atau sekadar memiliki waktu tanpa memikirkan pekerjaan juga bisa menjadi bentuk kemewahan di tengah kehidupan kota yang semakin sibuk.

Karena itu, kalimat “semua indah kalau ada duitnya” mungkin perlu sedikit diubah. Kondisi keuangan yang sehat memang membuat banyak hal terasa lebih mudah, tetapi hidup yang indah bukan hanya tentang banyaknya uang yang dimiliki.

Hidup juga tentang bagaimana uang digunakan untuk membeli rasa aman, waktu, pengalaman, dan kesempatan menikmati orang-orang yang kita cintai.

Kerja nyata tetap penting. Uang tetap penting. Bahagia juga penting. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai mengejar uang membuat kita kehilangan alasan mengapa sejak awal kita bekerja.

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com