Beritabanten.com + Musim kemarau yang masih berlangsung membuat krisis air bersih di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) semakin meluas. Hingga pertengahan September 2026, tercatat 30 titik mengalami kekeringan dengan ratusan kepala keluarga terdampak.
Mengutip laporan Bantenekspres.co.id, Jumat (18/9/2026), jumlah titik kekeringan di Tangsel bertambah dari sebelumnya 28 titik menjadi 30 titik. Kondisi tersebut terjadi setelah sumur-sumur warga di sejumlah wilayah dilaporkan mengering.
Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie membenarkan adanya perluasan wilayah terdampak. Kekeringan saat ini terjadi di dua kecamatan, yakni Setu dan Serpong.
Data Pemkot Tangsel mencatat sebanyak 844 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 3.423 jiwa terdampak kekeringan. Mereka tersebar di enam kelurahan, yakni Keranggan sebanyak 16 titik, Kademangan 7 titik, Muncul 2 titik, Serpong 2 titik, Bakti Jaya 2 titik, dan Babakan 2 titik.
1,2 Juta Liter Air Digelontorkan
Menghadapi kondisi tersebut, Pemkot Tangsel terus melakukan distribusi air bersih kepada warga terdampak. Penyaluran dilakukan bersama Palang Merah Indonesia (PMI), BBWS Ciliwung Cisadane, serta sejumlah pihak swasta, termasuk Sinarmas.
Sejak 8 Juni hingga 17 September 2026, total air bersih yang telah disalurkan mencapai 1.269.550 liter.
Distribusi air tersebut menjadi langkah penanganan sementara untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi di tengah kondisi sumur warga yang mengering.
Namun, Pemkot Tangsel juga mulai menyiapkan sejumlah langkah jangka panjang untuk menghadapi kemungkinan kemarau yang berlangsung lebih lama.
Salah satunya dengan menjajaki pembangunan sumur artesis di Kelurahan Keranggan dengan kedalaman lebih dari 60 meter. Pemerintah juga merencanakan pembangunan toren atau tempat penampungan air berkapasitas besar sehingga pasokan air dapat dimanfaatkan masyarakat secara lebih luas.
Warga Diminta Hemat Air
Di tengah cuaca panas dan kondisi kemarau, masyarakat diimbau menggunakan air secara bijak dan menghemat pemakaian untuk kebutuhan sehari-hari.
Warga juga diminta memastikan kebutuhan cairan tubuh tetap tercukupi serta mengurangi aktivitas di luar ruangan untuk mengantisipasi risiko dehidrasi.
Selain persoalan air bersih, Pemkot Tangsel mengingatkan masyarakat agar tidak membakar sampah sembarangan. Kebiasaan tersebut dinilai dapat meningkatkan risiko kebakaran sekaligus berdampak terhadap kualitas udara dan kesehatan saluran pernapasan.
Benyamin menegaskan, larangan membakar sampah sembarangan memiliki dasar hukum melalui Peraturan Daerah (Perda). Pemerintah daerah menyatakan dapat mengambil tindakan dan memberikan sanksi terhadap pihak yang melanggar ketentuan tersebut.
Langkah itu dilakukan untuk menjaga kualitas udara sekaligus mengantisipasi potensi kebakaran di tengah kondisi kemarau yang masih berlangsung. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan