Beritabanten.com – Kelas menengah yang selama ini menjadi penggerak utama konsumsi domestik Indonesia menghadapi tekanan dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah kajian menunjukkan proporsi masyarakat yang masuk kategori kelas menengah mengalami penyusutan, sementara kelompok masyarakat yang rentan secara ekonomi justru semakin besar.

Berdasarkan pengolahan data Badan Pusat Statistik (BPS) oleh Mandiri Institute, proporsi kelas menengah Indonesia diperkirakan turun menjadi sekitar 16,6 persen pada 2025. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan 2019 yang mencapai sekitar 21,4 persen. Secara jumlah, kelompok kelas menengah diperkirakan menyusut dari sekitar 57 juta orang menjadi sekitar 47–48 juta orang.

Sebagian besar dari mereka tidak serta-merta jatuh ke dalam kategori miskin, tetapi bergeser menjadi aspiring middle class atau calon kelas menengah. Kelompok ini telah keluar dari kemiskinan, namun belum memiliki fondasi ekonomi yang cukup kuat untuk menghadapi tekanan seperti kenaikan biaya hidup, kehilangan pekerjaan, atau perlambatan ekonomi.

Data yang sama juga menunjukkan kelompok rentan masih mencakup sekitar 24 persen penduduk, sedangkan calon kelas menengah mencapai sekitar 50 persen. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia masih berada dalam posisi yang memerlukan penguatan ekonomi agar tidak mengalami penurunan kesejahteraan.

Para ekonom menjelaskan fenomena tersebut melalui konsep middle class squeeze, yakni kondisi ketika kenaikan biaya hidup berlangsung lebih cepat dibandingkan peningkatan pendapatan masyarakat. Akibatnya, meskipun pendapatan nominal meningkat, daya beli riil tidak selalu ikut membaik.

Tekanan terhadap kelas menengah datang dari berbagai kebutuhan, mulai dari biaya perumahan, pendidikan, kesehatan, transportasi, hingga meningkatnya pengeluaran untuk layanan digital. Kondisi tersebut membuat ruang bagi masyarakat untuk menabung maupun membangun aset menjadi semakin terbatas.

Bank Dunia dalam sejumlah kajiannya juga menilai tantangan Indonesia tidak hanya mengurangi kemiskinan, tetapi memperluas kelompok kelas menengah yang memiliki ketahanan ekonomi. Menurut lembaga tersebut, kelompok calon kelas menengah masih rentan karena umumnya belum memiliki tabungan, aset, maupun pekerjaan yang stabil.

Persoalan lain yang turut memengaruhi adalah kualitas lapangan kerja. Meski Indonesia terus menciptakan kesempatan kerja, sebagian besar masih berada di sektor informal atau sektor dengan produktivitas yang relatif rendah. Kondisi ini membuat peningkatan pendapatan masyarakat berjalan lebih lambat dibandingkan kenaikan biaya hidup.

Padahal, kelas menengah memiliki peran penting sebagai motor pertumbuhan ekonomi nasional. Kelompok ini menjadi penggerak konsumsi rumah tangga, pembelian properti, pendidikan, jasa keuangan, hingga memberikan kontribusi terhadap penerimaan pajak. Ketika kelas menengah melemah, dampaknya dapat dirasakan pada perlambatan konsumsi dan aktivitas ekonomi secara keseluruhan.

Karena itu, sejumlah pengamat menilai kebijakan pembangunan perlu diarahkan tidak hanya pada pengentasan kemiskinan, tetapi juga memperkuat daya tahan kelas menengah. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui penciptaan lapangan kerja yang lebih produktif, menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok, memperluas perlindungan sosial, serta meningkatkan kualitas pendidikan dan keterampilan tenaga kerja.

Dengan demikian, tantangan pembangunan Indonesia ke depan bukan hanya menurunkan angka kemiskinan, tetapi juga memastikan masyarakat yang telah berhasil naik kelas mampu mempertahankan kesejahteraannya. Keberhasilan ekonomi tidak hanya diukur dari pertumbuhan produk domestik bruto, melainkan juga dari semakin banyaknya masyarakat yang memiliki pendapatan stabil, aset yang memadai, dan kepastian ekonomi di masa depan. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com