Beritabanten.com – Asap pekat dari kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, memaksa puluhan kepala keluarga meninggalkan rumah mereka.
Di tengah situasi darurat itu, Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid atau Bupati Maesyal memilih datang langsung ke lokasi pengungsian untuk memastikan kebutuhan warga terpenuhi.
Rabu dini hari, 1 Juli 2026, Maesyal berdialog dengan warga yang dievakuasi ke tempat yang lebih aman setelah asap kebakaran terbawa angin hingga memasuki kawasan permukiman.
Sekitar 30 kepala keluarga terdampak peristiwa tersebut. Pemerintah Kabupaten Tangerang bersama aparat kecamatan, pemerintah desa, TNI, dan Polri bergerak cepat mengevakuasi warga guna menghindari risiko gangguan kesehatan akibat paparan asap.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang bergerak cepat membantu warga terdampak. Karena asap terbawa angin ke wilayah permukiman, warga langsung dievakuasi ke tempat yang lebih aman,” kata Maesyal.
Di lokasi pengungsian, pemerintah memastikan kebutuhan dasar warga tetap tersedia. Makanan, air bersih, layanan kesehatan, hingga tempat beristirahat disiapkan agar warga dapat bertahan selama proses penanganan kebakaran berlangsung.
Maesyal mengatakan dirinya telah berbincang langsung dengan para pengungsi. Menurutnya, kondisi kesehatan warga secara umum masih baik dan tenaga medis telah disiagakan untuk melakukan pemantauan selama 24 jam.
“Alhamdulillah semuanya dalam kondisi sehat. Kebutuhan makan dan minum sudah tersedia. Obat-obatan juga sudah disiapkan, termasuk dokter dan perawat yang berjaga untuk memantau kondisi warga,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah daerah menyiapkan kasur, alas tidur, vitamin, serta ambulans siaga sebagai langkah antisipasi apabila sewaktu-waktu diperlukan penanganan medis lebih lanjut.
Bupati meminta warga tetap bertahan di lokasi pengungsian sementara hingga kebakaran berhasil dikendalikan dan kualitas udara di sekitar TPA kembali dinyatakan aman.
“Sebelum kondisi TPA benar-benar teratasi dan masih ada asap, saya minta warga tetap berada di tempat yang aman. Makan, minum, vitamin, dan pelayanan kesehatan semuanya sudah kami siapkan,” katanya.
Bagi warga, kebakaran itu bukan sekadar kobaran api di kawasan pembuangan sampah. Asap yang menyelimuti permukiman memaksa mereka meninggalkan rumah demi keselamatan keluarga. Di tengah situasi tersebut, kecepatan penanganan menjadi penentu agar dampak bencana tidak berkembang menjadi krisis kesehatan yang lebih luas.
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan