Beritabanten.com – Aksi bejat oknum.guru mencoreng dunia pendidikan di Kota Tangerang Selatan (Tangsel), mencuat setelah ada laporan korban.

Kejadian ini menimpa sejumlah siswa terbilang banyak di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 01 Rawa Buntu, Kelurahan Rawa Buntu, Kecamatan Serpong, Kota Tangsel, Provinsi Banten.

Oknum guru berinisial Y di sekolah itu yang menjadi wali kelas tidak sangka melakukan aksi bejatnya kepada sejumlah suswa laki-laki.

Kepala SDN Rawa Buntu 1, Tarmiati, menjelaskan kabar tidak sedap itu terungkap berdasarkan pengakuan dari salah satu orang tua kepada korban kepada pihak sekolah.

“Awal hari Kamis (15/1) itu orang tua lapor, setelah ia lapor kalau ga salah (awalnya) tujuh orang (korban). ‘Bu anak saya dilecehkan begini-begini’. Langsung saya terima laporannya,” ujar Tarmiati, dikutip dari tangselpos, Selasa 20 Januari 2026.

Selanjurnya, laporan langsung diproses dalam waktu yang tidak terlalu lama dengan menginterogasi oknum guru yang diduga kuat menjadi pelaku dalam kasus ini hingga tak bisa berkilah satu kata pun.

“Saya panggil guru itu, kata guru itu, ‘Mohon maaf guru saya khilaf’,” ucap Tarmiati meniru jawaban pelaku.

Pengakuan anak buahnya itu pun membuat dirinya terkejut. Sontak, ia langsung mengambil langkah tegas dengan merumahkan pelaku.

“Sudah, ibu gak mau tau saat ini sampai nanti waktu yang tidak ditentukan dia harus di rumah dulu, bahkan ibu menulis surat untuk melaporkan ke dinas itu kan pake surat resmi pas hari Kamis itu juga. Karena kan kalau kaya gini ga bisa ditoleransi, apalagi itu bener orang tua yang datang ke saya,” tegasnya.

Ia mengungkapkan, aksi tak bermoral oknum guru tersebut telah membuatnya tak habis pikir. Bukannya menjadi sosok yang memberikan contoh terhadap muridnya, dia justru melakukan perbuatan yang sangat bejat.

Parahnya lagi, ternyata korban tak hanya satu. Dengan iming-iming memberi uang dan makanan, sudah lebih dari 10 siswa menjadi korban oknum guru bejat tersebut. Korban dipangku, dipeluk, sampai dicium. Bahkan hingga memegang alat vital korban.

“Kalau sampai saat ini yang sudah melapor (korban) ada 17. Korbannya cowo semua, gurunya juga cowo duda. Kalau menurut orang tua, saya ga tau yah katanya diiminginya di kasih uang,” paparnya.

Saat ini kasus tersebut sudah dalam penanganan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kota Tangsel. Berdasarkan informasi, para korban pun ingin membawa kasus ini ke ranah hukum.

Sementara itu, Kepala UPTD PPA Kota Tangsel, Tri Purwanto menegaskan, saat ini kasus tersebut tengah ditangani. Hal terpenting yang harus dilakukan adalah menjaga psikologis anak yang menjadi korban aksi bejat oknum guru tersebut.

“Kita akan dampingi dalam proses pelaporannya, baik proses hukumnya, di Kepolisian maupun di kita (UPTD PPA) untuk mengedukasi orangtua bagaimana seharusnya. Jadi melikapi kejadian ini, jangan sampai anak-anak akhirnya terima dampaknya ini dengan kejadian ini, itu hal pertama,” ungkap Tri.

Lalu langkah kedua, kata Tri, UPTD PPA Kota Tangsel juga akan menerjunkan psikolog kepada seluruh korban.

“Nah ini yang memang kita titik beratkan, layanan psikolog ini sebetulnya buat psikologi mereka. Apa yang mereka sekarang alami, ini bisa jadi trauma kan nantinya, itu yang akan panjang. Ini harus kita perbaiki psikisnya, jangan sampai kan saya pernah ngomong, korban kalau tidak ditangani dengan benar secara psikologinya, itu bisa jadi dua kemungkinan di kemudian hari. Dia bisa menjadi pelaku atau dia menjadi korban seumur hidup,” jelasnya.

Oleh karena itu, layanan konseling menjadi langkah utama dalam penanganan ini. Kemudian di sisi lain, UPTD PPA Kota Tangsel terus akan menggali kebenaran kasus tersebut.

“Karena sementara ini, korban berjumlah 17 orang. Tapi itu kan 17 belum kita klasifikasikan yang kasus berat, sedang, ringan. Karena itu yang akan kita perdalam ini dulu. Lalu kita akan dampingi laporannya,” pungkasnya. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com