Beritabanten.com — Layanan perbankan digital milik PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mengalami gangguan pada Senin (29/9/2025) pagi.

Sejumlah nasabah melaporkan tidak dapat mengakses layanan mobile banking seperti myBCA dan BCA Mobile, yang menjadi andalan dalam melakukan transaksi harian.

Keluhan dari pengguna langsung bermunculan di media sosial, terutama platform X (sebelumnya Twitter). Salah satu keluhan disampaikan oleh akun @crmenh2h yang menulis, “@HaloBCA min ini mbanking lg eror? kok saya mau top up flazz dari tadi ga bisa lampunya masih merah trus pdhl msih ada paket,” tulisnya.

Menanggapi hal tersebut, pihak BCA melalui akun resmi layanan pelanggan @HaloBCA mengonfirmasi bahwa memang sedang terjadi gangguan sistem.
“Saat ini terdapat kendala namun untuk kendala tersebut masih dalam penanganan analis BCA,” tulis akun tersebut.

BCA juga menyampaikan permintaan maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan nasabah.

“Mohon maaf atas ketidaknyamanan dan kendala yang Bapak/Ibu Pelanggan alami. Mohon kesediaan Bapak/Ibu dapat menunggu dan dapat mencoba kembali secara berkala ya. Tks,” lanjut pernyataan dari akun tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada informasi lanjutan mengenai penyebab pasti gangguan ataupun estimasi waktu pemulihan layanan.

Gangguan pada layanan digital ini terjadi di tengah performa keuangan BCA yang masih menunjukkan tren positif sepanjang 2025. Dalam Public Expose yang diselenggarakan pada 11 September 2025, para analis menyatakan bahwa BCA berada di jalur yang tepat untuk melampaui target rencana bisnis tahun ini.

Analis dari Trimegah Sekuritas, Jonathan Gunawan, mengatakan bahwa BCA dikenal dengan model bisnis yang konservatif namun efisien. Ia menyoroti pertumbuhan penyaluran kredit yang sudah mencapai 12,9% hanya dalam enam bulan pertama tahun 2025, padahal target tahunan hanya 6–8%.

Pertumbuhan tersebut sebagian besar disumbang oleh sektor produktif, yaitu korporasi yang tumbuh 16,1% secara tahunan, komersial 12,6%, dan segmen UKM (SME) sebesar 11,1%. Sementara itu, sektor konsumer tumbuh moderat sebesar 7,6%.

Menurut Jonathan, pertumbuhan signifikan di sektor SME disebabkan oleh strategi BCA yang melakukan akuisisi kredit SME berkualitas tinggi dan menawarkan harga pinjaman yang kompetitif.

Dari sisi pendanaan, rasio dana murah (CASA) BCA mencapai Rp 982 triliun atau 82,5% dari total dana pihak ketiga. Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat sebesar 78%, dengan cadangan likuiditas tinggi yaitu Rp 433 triliun dalam bentuk secondary reserves dan surat berharga.

Sepanjang semester I-2025, BCA mencatat laba bersih sebesar Rp 29 triliun, naik 8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pendapatan bunga bersih tumbuh 7%, sementara pendapatan non-bunga melonjak 10,6% berkat peningkatan fee-based income dan trading income. Rasio kredit bermasalah (NPL) juga masih terjaga di level 2,2% dengan coverage ratio mencapai 167%.

Meski menghadapi tantangan teknis sementara, kinerja fundamental BCA dinilai tetap kuat oleh para analis. Namun demikian, gangguan layanan digital tetap menjadi perhatian penting di tengah meningkatnya ketergantungan masyarakat terhadap layanan perbankan berbasis teknologi. (Sra)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com