Beritabanten.com – Kali Angke yang berada di kawasan Vila Pamulang, Kelurahan Pondok Benda Kecamatan Pamulang Kota Tangsel menerima kiriman air dari daerah Kota Depok dan Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat.

Terpantau media, permukaan air berada 50 cm hingga satu meter di bawah permukaan badan jalan dengan lebar dan kedalaman sungai berpareasi.

Salah seorang pedagang kopi di pinggir belokan Kali Angke bernama Yanto menjelaskan kedalaman air bisa mencapai delapan meter.

“Kalau hujan semalam itu bisa menjadikan kedalaman delapam meter. Lebar sungai saja bisa mencapai sembilan meter,” jelasnya, Rabu (3/3/25).

Yanto bercerita dirinya belum pernah mengalami kebanjiran berbeda dengan kawasan deket jembatan di mana terletak perumahan yang dibuat oleh salah satu BUMN.

“Itu kalau daerah deket jembatan setelah pom bensin pertigaan Parakan Pamulang 2 bisa mencapai satu meter kalau meluber. Dua tahun lalu kan pernah terjadi,” katanya.

Dia meyakini permukaan rendah kawasan tersebut menyebabkan debit air meluap meski ada pembatas gundukan tanah.

“Dulunya mungkin rawa terus diurug dan dijadikan kawasan perumahan. Jalannya sih bagus tapi kan berada di kawasan hampir rata dengan permukaan sungai jika air seperti ini,” ucapnya.

Dia memgaku pindah ke kawasan Vila Pamulang pada tahun 2000 tersebut menyampaikam kejadian Kali Angke seperti ini terjadi setiap tahun.

“Kalau huian datang selama dua jam saja, pasti debit airnya banyak. Kan sungai lintasan dari daerah Parung Depok dan Rawa Kalong Bogor,” ucapnya.

Prihal beberapa bagian jalan di pinggir Kali Angke Vila Pamulang tampak retak, dikatakan, terjadi seiring dengan kejadian debit air yang banyak.

Beberapa tempat memang telah mendapatkan pembangunan turap tapi tidak menjamin permukaan jalan rata.

“Sudah sebagian diberikan turap, tapi kan debit air banyak bisa menggerus tanah di bawahnya. Apalagi kalau pas belokan sungai pasti hantaman airnya kencang,” ucapnya.

Kali Angke juga dikatakan pernah dijadikan tempat buang mayat ketika debit air banyak seperti sekarang ini. Selain itu pernah meminta korban anak-anak yang ditemukan di pas belokan sungai yang dalam.

“Kalau yang mayat korban pembunuhan kan sempat ramai tahun 2000-an itu  ada di bawah jembatan. Nah kalau anak korban tenggelam ditemukannya pas di belokan sungai yang dalam itu,” bebernya.

Dirinya mengaku tetap waspada meski warung kopi tempat usahanya masih terbilang aman dari luapan air Kali Angke. Dia berjualan juga tidak sampai larut malam dengan pertimbangan kondisi badan dan keselamatan.

“Tetap waspada juga mas. Namanya juga di pinggir sungai tempat usahanya. Malam hari juga kan suka ada yang usil. Gas melon saya pernah hilang dua buah,” demikian dia menutup. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com