Beritabanten.com – Di Ciputat, Selasa, 21 April 2026, pembicaraan tentang kemiskinan seperti dipaksa keluar dari jalurnya yang biasa. Bukan lagi sekadar soal distribusi bantuan atau angka-angka penerima manfaat.

Menteri Agama Nasaruddin Umar justru menyorongkan sudut pandang yang lebih mendasar sekaligus mengusik alam bawah sadar. Kemiskinan, katanya, juga berakar dari ketiadaan ilmu.

Pernyataan itu meluncur dalam forum BAZNAS Collaborative Leadership (BCL) 2026, di hadapan para pengelola zakat nasional. Di titik ini, kritiknya menjadi implisit.

Selama ini, pendekatan terhadap mustahik kerap berhenti pada bantuan ekonomi jangka pendek, yang meredakan, tetapi jarang benar-benar mengubah keadaan.

Padahal, seperti diingatkan Nasaruddin, ketergantungan justru bisa tumbuh dari pola itu.

Ia kemudian menunjuk satu instrumen yang dianggap lebih menjanjikan, sekaligus lebih menuntut kesabaran: beasiswa. Bagi Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), ini bukan sekadar perluasan program, melainkan pergeseran orientasi—dari karitatif menuju transformatif.

“Kemiskinan bukan hanya soal harta, tetapi juga ilmu,” ujarnya.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan konsekuensi kebijakan yang tidak ringan. Jika kemiskinan dipahami sebagai persoalan struktural turun tenurun, maka intervensinya pun tak bisa instan. Pendidikan, dalam hal ini, menjadi jalan panjang yang hasilnya baru terasa bertahun-tahun kemudian.

Ketua BAZNAS RI Sodik Mudjahid tampak berada di jalur yang sama. Ia menyebut penguatan beasiswa sebagai bagian integral dari pembangunan sumber daya manusia mustahik.

Namun, di balik optimisme itu, terselip tantangan klasik: konsistensi, ketepatan sasaran, dan keberlanjutan program.

Sebab, beasiswa bukan hanya soal memberi akses masuk ke ruang kelas. Ia juga tentang memastikan penerimanya mampu bertahan, menyelesaikan pendidikan, dan pada akhirnya keluar dari lingkaran yang sama.

Di sinilah persoalannya menjadi lebih kompleks. Apakah lembaga zakat siap mengelola program jangka panjang dengan segala risikonya? Atau, beasiswa akan bernasib sama seperti banyak program sosial lain—baik dalam gagasan, tetapi rapuh dalam pelaksanaan?

Dari Ciputat, Kota Tangerang Selatan gagasan itu kini dilempar ke ruang publik. Bahwa memutus rantai kemiskinan mungkin memang tidak bisa lagi hanya mengandalkan bantuan yang habis dalam sekali pakai.

Ada yang menuntut sesuatu yang lebih sunyi, lebih lama, dan lebih sulit diukur: investasi pada manusia itu sendiri. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com