Beritabanten.com — Wakil Wali Kota Tangerang Selatan, Pilar Saga Ichsan, gerak cepat menerima aduaa warga yang mampir di meja kerjanya. Tapi dia tidak mau sekadar menerima laporan di atas meja, di ingin melihat langsung bukti di lapangan.
Menurut sumber media Pilar akhirnya menyisir menyisir titik-titik banjir yang dikeluhkan warga. Dari blusukan tersebut, Pilar mendapati sejumlah persoalan klasik kembali terkuak: drainase tak berfungsi, limpasan air dari proyek perumahan, hingga saluran yang “dikunci” bangunan liar.
Peninjauan yang dilakukan pada Rabu (22/4) itu sekaligus menjadi sinyal keras bahwa Pemerintah Kota Tangerang Selatan atau Pemkot Tangsel tidak akan tinggal diam menghadapi persoalan banjir yang berulang tanpa solusi. Siapa pun yang menyebabkan fasilitas perairan tidak berfungsi maksimal akan mendapat sanksi setimpal untuk kebaikan nanti di musim penghujan.
Adalah Jalan Raya Puspitek, sebelum perempatan Viktor, Kecamatan Serpong menjadi titik pertama yang disambangi oleh Pilar bersama jajarannya. Mereka menemukan fakta yang mengejutkan, terdapat genangan air bukan lagi fenomena musiman—melainkan menetap, bahkan saat hujan tak turun.

Buruknya Sistem Drainase
Pilar menyoroti buruknya sistem drainase sebagai biang keladi. Ditambah lagi, adanya limpasan air dari kawasan perumahan yang masih dalam tahap pembangunan memperparah kondisi.
“Air dari kawasan proyek itu tidak tertangani dengan baik. Saluran juga tidak optimal. Ini kombinasi yang bikin banjir bertahan lama,” tegasnya, dalam keterangan diterima redaksi, Kamis 23 April 2026.
Ia meminta pengembang tak lepas tangan. Menurutnya, pembangunan harus dibarengi dengan sistem pengendalian air yang memadai, termasuk penyediaan embung atau tampungan air tambahan.
“Ada beberapa permasalahan utama, ada limpasan air dari lahan perumahan. Saya minta progresnya untuk pembangunan embung, penampungan air di area dalam tanahnya,” jelasnya.
Tak berhenti di situ, Pilar juga mengungkap bahwa sebagian drainase di kawasan tersebut berada di bawah kewenangan Provinsi Banten. Koordinasi pun sudah dilakukan, mengingat kondisi saluran yang disebut-sebut sudah lama tertutup.
“Kami juga mengajukan ke Dinas PU Provinsi Banten karena ini punya provinsi, saluran airnya minta dibangun lagi karena ini sudah tertutup, jadi ada beberapa hal yang kami tangani,” ungkapnya.
Langkah darurat pun ditempuh. Pemkot Tangsel akan melakukan pemompaan serta penanganan sementara menggunakan karung penahan air.
“Yang penting sekarang air cepat surut dulu. Teknis pompa nanti dibantu Bina Marga,” ujarnya.
Masalah yang lebih serius ditemukan di kawasan Perumahan Villa Melati Mas, khususnya RW 9 dan Vista Melati Mas. Di sini, Pilar menemukan fakta mencengangkan: saluran utama justru tertutup bangunan.
Mulai dari akses menuju minimarket hingga tempat cuci mobil, berdiri di atas jalur air yang seharusnya bebas hambatan.
“Ini tidak bisa dibiarkan. Saluran utama harus dinormalisasi. Kalau tertutup bangunan liar, ya harus ditertibkan,” tegas Pilar.
Ia memastikan, Pemkot Tangsel akan menelusuri status lahan hingga ke Badan Pertanahan Nasional (BPN). Jika terbukti melanggar, pembongkaran tak bisa dihindari.
Satpol PP pun sudah diinstruksikan untuk bergerak. Pendataan aset dan pelanggaran akan dilakukan, disusul tahapan penertiban.
Namun, pendekatan persuasif tetap dikedepankan di awal.
“Kita beri kesempatan bongkar sendiri. Tapi kalau tidak, ya kita tindak. Akses boleh ada, tapi jangan sampai menutup total saluran,” tandasnya.

Penangan Banjir Jangka Panjang
Selain penertiban, Pemkot Tangsel juga menyiapkan langkah jangka panjang. Normalisasi drainase menjadi prioritas utama agar aliran air kembali lancar.
Tak hanya itu, perbaikan infrastruktur pendukung juga masuk dalam rencana. Mulai dari peningkatan penerangan jalan umum (PJU), perbaikan jalan lingkungan, hingga pembangunan sodetan untuk mengalirkan air ke saluran utama.
Menurut Pilar, kawasan seperti Perumahan Villa Melati Mas memang membutuhkan perhatian ekstra karena tergolong perumahan lama dengan infrastruktur yang sudah menurun kualitasnya.
“Kita dorong masuk penganggaran tahun ini. Harapannya, tahun depan sudah bisa dieksekusi. Yang penting sekarang perencanaan matang dan semua pihak terlibat,” jelasnya.
Langkah ini diharapkan tak hanya menjadi solusi sementara, tetapi juga mengakhiri siklus banjir yang terus berulang di wilayah tersebut.
Dengan temuan di lapangan yang cukup serius, Pemkot Tangsel mempunyai data lebih dari cukup untuk menuntaskan persoalan banjir yang kerap menghantui Tangsel, terutama yang disebabkan oleh buruknya sistem perairan yang selama ini dilakukan oleh pengembang nakal. (Adv)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan