Beritabanten.com – Edukasi literasi digital di Banten mempunyai peranan strategis dalam menciptakan melek teknologi di era digital.

Demikian disampaikan Ketua Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Provinsi Banten, Ahmad Taufiq dalam menyikapi pentingnya literasi digital di tanah jawara.

Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Provinsi Banten sendiri merupakan sebuah komunitas di Indonesia dengan jenjang pengurus wilayah yang telah menjadi mitra strategis dalam pemberdayaan TIK dan literasi digital di tengah masyarakat.

“Kami insya Allah tengah mempersiapkan program ‘Gerebek Digital’ yang nantinya berkeliling Banten untuk mengedukasi masyarakat terkait TIK dan literasi digital,” ungkap Taufiq, Minggu (31/11).

‘Jangan lagi ada yang terperdaya hoaks, terkena hacking, melakukan ujaran kebencian di medsos, juga para pelaku UMKM dapat memanfaatkan berbagai platform loka pasar digital yang cocok untuk mengembangkan usahanya,” sambungnya.

Taufiq juga menjelaskan bahwa teknologi digital tak ubahnya pisau dengan apel di dapur kita. Jika kita manfaatkan dengan memotong apel lalu apel itu kita makan, maka kita kenyang dan beruntung.

Sedangkan jika kita salah gunakan pisau sehingga teriris tangan dan terluka tentunya kita celaka. Sedangkan jika kita biarkan saja pisau dan apel itu di dapur, tanpa usaha saat kita lapar, maka kita akan merugi.

Ia pun melanjutkan bahwa literasi digital merupakan adalah kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk dari berbagai sumber yang sangat luas yang diakses melalui perangkat teknologi digital. Terbagi dalam 4 pilar yang disingkat CABE.

“Ada 4 pilar literasi digital. Yang pertama, Cakap Digital, sebuah kemampuan kita memanfaatkan teknologi digital, seperti buah sebuah pohon. Dengan kemampuan itu kita bisa mendapatkan keuntungan finansial,” bebernya.

‘Kedua Aman Digital, sebuah kemampuan melindungi perangkat digital dan mawas diri dari ancaman keamanan informasi seperti hacking, virus, dan malware. Kunci utamanya adalah dengan tidak sembarang klik, dan cermat dapat membedakan jebakan keamanan yang sering disuguhkan iklan dan kiriman tipuan lainnya dari orang yang tidak dikenal. Hal ini seperti pagar dari pohon untuk melindungi dari para binatang pengganggu,” lanjutnya.

Ketiga, katanya, Budaya Digital yang menuntut seseorang selaku Warga Negara Indonesia untuk tidak lupa akan pentingnya Bhinneka Tunggal Ika di dunia digital. Ditegaskannya, jangan ada perdebatan SARA di media sosial dan mampu membangun budaya digital yang baik seperti menghindari efek kecanduan gawai.

“Keempat, Etika Digital, bahwa kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana saja, termasuk di dunia digital.” tutupnya. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com