Beritabanten.com – Terdapat peningkatan tren kasus HIV/AIDS di Kabupaten Serang setiap tahunnya. Penyebaran HIV/AIDS disebabkan oleh perilaku seksual berisiko, seperti berganti-ganti pasangan dan perilaku seksual menyimpang.
Selain itu, penggunaan narkotika dengan jarum suntik juga turut berkontribusi. Hingga Agustus 2024, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Serang mencatat 120 kasus baru, terdiri dari 88 kasus positif HIV, 32 kasus AIDS, dan 6 kematian.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Serang, Istianah Hariyanti, menyatakan bahwa terdapat tren peningkatan kasus HIV/AIDS setiap tahun di daerah tersebut.
Sebagai contoh, pada tahun 2021 ditemukan 42 kasus baru, yang tergolong sedikit karena selama itu terjadi pandemi Covid-19, sehingga pemeriksaan tidak dapat dilakukan secara aktif.
“Pada tahun 2022, kami mulai aktif melakukan pemeriksaan dan menemukan 123 kasus baru. Tahun 2023 mencatat 125 kasus baru. Dan pada tahun 2024 hingga Agustus, sudah tercatat 120 kasus baru, meskipun pada periode yang sama tahun lalu hanya ada 125 kasus,” jelasnya pada Jumat, 4 Oktober 2024.
Istianah juga menambahkan bahwa sebagian besar penderita HIV/AIDS berada dalam kelompok usia produktif, yaitu 18 hingga 59 tahun.
“Ini terkait dengan aktivitas seksual, karena penularan HIV umumnya terjadi melalui hubungan seksual berisiko,” terangnya.
Dia menjelaskan bahwa hasil pemeriksaan menunjukkan banyak kasus positif HIV/AIDS terbanyak dari karena kalangan lelaki seks lelaki (LSL), dengan total 54 kasus.
“Kami aktif melakukan pemeriksaan pada kelompok berisiko tinggi seperti LSL, waria, dan pekerja seks. Jika hanya menunggu orang datang untuk diperiksa, temuan kasus akan sangat sedikit,” katanya.
Istianah juga mengungkapkan bahwa HIV adalah penyakit yang memerlukan waktu lama untuk menunjukkan gejala, biasanya antara tiga hingga delapan tahun.
“Pada tahap awal infeksi, penderita tidak menunjukkan gejala, merasa sehat, namun setelah tiga tahun, gejala dapat muncul seperti demam yang tidak kunjung sembuh, penurunan berat badan drastis, atau infeksi oportunistik, salah satunya adalah TBC atau pneumonia,” jelasnya.
Dia menambahkan bahwa terdapat delapan kelompok yang menjadi fokus pemeriksaan HIV/AIDS, termasuk LSL, waria, pekerja seks, ibu hamil, pasien TBC, pasien dengan infeksi menular seksual, serta pengguna narkoba suntik.
“Untuk ibu hamil, sebanyak 18.348 orang telah kami periksa. Meskipun mereka tidak tergolong dalam kelompok berisiko HIV, pemeriksaan ini dilakukan sebagai langkah pencegahan untuk menghindari penularan kepada janin. Jika ditemukan positif, kami segera memberikan pengobatan agar viral load-nya menurun,” pungkasnya. [Rzm]
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan