Beritabanten.com – Panas pagi hari menjadi teman setia penjual koran cetak bernama Rohim (53) di perempatan Gaplek Pamulang, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan.
Dirinya adalah satu dari sekian orang yang setia menjalani profesi menjual koran cetak yang terbilang langka pasca media on line menjamur di tanah air.
“Saya ambil setiap pagi di agen Pasar Ciputat. Jumlahnya terbatas sekali ambil langsung habis ngga kaya dulu,” katanya membuka pembicaraan dengan media, Rabu (12/2).
Dia rutin berjualan di depan MC Donald Gaplek kecuali hari libur karena sesuai dengan para pengendara yang lewat sepi atau jika hujan deras di pagi hari.
Dia melayani para pengendara yang hendak berangkat kerja ke Jakarta dan masih butuh sekedar mambaca koran sambil menunggu macet reda.
“Rata-rata yang usianya di atas empat puluhan yang belinya. Sering juga mereka nanya sementara korannya sudah habis,” ungkapnya.
Dia jelaskan kebutuhan pada koran cetak menurut konsumen lebih disebabkan oleh kepentingan dokumentasi kehilangan barang atau pengumuman pengadilan.
“Kalau yang pesan biasanya butuh dokumentasi katanya. Mereka ada yang berani bayar di muka untuk diambil besok dengan janjian,” ungkapnya.
Dia juga mengaku bahwa dirinya tidak sendirian menjajakan koran, satunya lagi jualan di atas jembatan tol dekat Pintu Tol Pamulang dengan stoknya juga terbatas.
“Ada satu temen saya yang jualan di jembatan tol. Sama kaya saya, kalau tidak laku hari ini besoknya tetap dijual dan tetap aja ada yang beli,” tuturnya.
“Kalau bapak butuh koran tiga hari lalu juga masih ada. Soalnya kan rugi kalau tidak kejual juga karena ambil di agen langsung bayar cash,” katanya.
Dia menceritakan bahwa tidak jarang harus beli koran edisi sehari sebelumnya pada agen dan teteap laku jika dijual.
“Kemarin kan tidak sampai ke agen korannya, kami tetap ambil juga. Alhamdulillah masih ada yang mau beli karena sudah djsampaikan sebelumnya,” imbuhnya.
Dalam menjalani profesinya, Rohim harus pandai mengatur keuangan dari hasil penjualan koran cetak. Untungnya, katanya, terbatas dengan harga sesuai bandrol di koran.
“Itu kan ada bandrolnya. Kecuali kalau konsumen ngasih lebihan karena dia pesan saja. Baru kita daoat untung tambahan,” tegasnya.
Entah sampai kapan Rohim bisa menjalani profesi yang terbilang langka dan beresiko tersebut. Menjual koran cetak dengan stok terbatas dan tidak pasti sementara konsumennya tidak banyak.
Dirinya mengaku dengan menjual koran cetak masih bisa membaca berita seperti waktu koran cetak masih jadi acuan dalam mengetahui informasi.
“Saya engga punya hp pak, jadi mendapat informasi penting dengan membaca koran cetak yang dijual ini,” demikian dia menutup pembicaraan. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan