Beritabanten.com – Puasa merupakan peragkat ritual Islam yang bisa membuat pelakunya bisa mengendalikan potensi negatif sehingga selamat dari perbuatan yang merugikan.

Demikian disampaikan oleh Sekertaris Umum (Sekum) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tangerang Selatan, KH Abdul Rojak ketika menanggapi beragam kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat muslim di Tangsel dalam menyambut bulan suci ramadhan.

“Biasanya ada munggahan dengan mengundang orang terdekat untuk makan bareng. Melepas rindu pada makanan dulu sekaligus mempererat silaturahmi.” katanya melalui sambungan Whats Up, Senin (24/2/2025).

Kebiasaan tersebut merupakan bagian tidak terpisahkan dari keyakinan masyarakat muslim tentang kekuatan puasa dalam mengendalikan hawa nafsu dalam diri manusia.

“Secara sederhana kan ditahan untuk tidak menikmati makan dan minum dalam waktu yang telah ditentukan dan boleh menikmati kembali ketika waktu adzan magrib,’ jelasnya.

Karena itu, dia meminta kepada seluruh masyarakat untuk terus menyelami makna puasa dengan merasakan jerih payah dalam keadaan lapar dan dahaga di siang hari.

“Coba ingat pada kaum duafa yang tidak pernah sarapan. Boleh jadi mereka baru makan pas sore hari, itu pun dalam porsi tidak wajar,” pesannya.

Para kaum tidak berdaya tersebut, kata dia, adalah objek yang paling sederhana yang bisa menjadi cermin bagi pelaku ibadah puasa untuk menyelami makna peduli pada sesama, terutama orang terdekat.

Dengan berpuasa, rasa empati bisa muncul secara tidak sadar karena yang puasa berada dalam kondisi sama tidak bisa makan dan minum di siang hari.

“Potensi negatif itu adalah tidak peduli pada sesama, terutama soal memperhatikan isi perut kaum dhuafa yang kerap ada di sekeliling kita. Boleh jadi saudara sedarah yang terlanjur malu untuk menyampaikan rasa perih manahan lapar,” tuturnya.

Dalam sejarah kenabian, dijelaskan Kyai Rojak, demikian disapa, Nabi Muhammad menyampaikan misi keutamaan puasa adalah mengendalikan diri, terutama dari nafsu lawwamah (potensi negatif) menuju nafsu muthmainnah (potensi positif) yang ada dalam diri setiap manusia.

“Sejarah puasa adalah reaksi aktual di tengah masyarakat Arab, selain tidak menghargai perempuan jua  perbudakan yang meraja lela. Masa manusia diperdagangkan?,’ tanya dia penuh keheranan.

Selanjutnya, ditambahkan, Nabi Muhammad menyempurnakan syariat berpuasa dengan mewajibkan mengeluarkan sebagian harta dengan ketentuan tertentu bernama zakat.

“Zakat dan puasa dalah tarikan nafas kepedulian sosial dalam Islam yang sampai saat ini dan masa mendatang akan tetap menyangga peradaban adil dan beradab,” ungkapnya.

Dia juga meminta kaum muslim yang menunaikan puasa untuk melakukan zakat fitrah yang dikeluarkan sebelum hari Idul Fitri sekaligus mengeluarkan zakat harta sesuai ketentuan syariat.

“Habis puasa ya harus berzakat sebagai penutup dari keutamaan mengendalikan potensi negatif berupa penguasaan berlebihan atas harta yang kita miliki,” demikian dia menutup. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com