Beritabanten.com – Ketentuan sekolah jenjang SMP dan SMA melarang siswa membawa motor sendiri ke sekolah menyisakan peluang usaha bagi warga sekitar.

Ini terlihat pada aktivitas pengelola parkir di dekat SMPN 17 Kota Tangsel dan SMAN 6 Kota Tangsel di Perumahan Pamulang Permai, Kelurahan Pamulang Barat, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan Rabu pagi 16 Juli 2025.

Lahan parkirnya memanfaatkan jalur pipa gas yang membelah komplek tersebut yang hari biasa digunakan warga untuk olahraga, baik senam pagi maupun sepakbola. Dasarnya dicor rapih dengan ujung kiri kanan terdapat tiang gol.

Pengguna lahan parkir tersebut kebanyakan siswa SMAN 6 Tangsel dan sisanya dari siswa SMPN 17 Kota Tangsel. Mengingat anak usia jenjang SMP sedikit yang diperbolehkan orang tua untuk membawa motor sendiri ke sekolah.

Warung di pinggir jalan kawasan SMAN 6 Kota Tangsel – Foto beritabanten.com.

Tingkatkan Omzet Jualan

Penjaga warung samping lahan parkir bernana Maemunah menyampaikan bahwa lahan parkir tersebut sudah ada sebelum dirinya berjualan.

“Itu tempat parkir sebelum saya jualan sudah ada. Udah lama ko, kan itu juga biasa dipakai olahraga sama warga,” kata dia.

Dia berjualan mendapatkan banyak pembeli dari siswa yang biasa parkir di lahan tersebut. Siswa biasa membeli kudapan berupa tempe goreng, kornet, aneka minuman dingin dan panas berupa jas jus, nutrisari, kopi dan susu.

“Alhamdulillah pak, anak-anak ada aja yang mampir sebelum mereka pulang. Mereka suka banget kalau makan gorengan dicampur saos,” ungkap dia.

Omset sehari bisa mencapai Rp 300.000 jika sedang ramai tergantung hari dengan tanggal tertentu.

“Kalau lagi tanggal muda mah bisa bisa sampai lima ratus ribu pak. Saya buka dari jam enam pagi sampai jam sebelas malam,” ucapnya.

“Parkir sini aja anaknya pak. Aman ko, kan ada yang jagain,” demikian dia menyarankan.

Pengelola parkiran di kawasan SMAN 6 Kota Tangsel memeriksa kendaraan kemungkinan kunci tertinggal – Foto beritabanten.com.

Pengelola Jaga Kendaraan

Sementata itu, pengeola parkir sekaligus pengumpul barang bekas yang enggan disebut namanya menjelaskan waktu parkir disesuaikan sama siswa di sekolah.

Soal tarif parkir, sangat bersahabat hanya Rp3.000 menyesuaikan dengan kocek anak sekolahan. Itu sepanjang anak sekolah dari pukul 06.00 WIB sampai pulang yang rata-rata pada pukul 14.00 WIB.

“Tiga ribu pak. Paling juga jam duaan kelar karena menyesuaikan dengan waktu belajar. Kalaupun ada yang lewat (dari pukul 14.00 WIB) paling ada kegiatan OSIS atau lainnya,” ucap dia.

Soal kepada siapa uang hasil dari tarikan sewa parkir, dia enggan mengatakan. Kata dia ada yang dibagi-bagi untuk siapa saja yang bersedia mengaturnya karena niat awalnya bantu sekolaj juga agar motor anak-anak jadi aman.

“Niat awalnya kan bantu, jadi memang murahlah. Kalau hasilnya sih dinikmati bersama kan harus makan minum juga kita mah. Pak RW oke aja sih,” ucap dia.

Suasana jadi hening setelah anak-anak sudah selesai menyimpan motor di lahan parkir tersebut. Para pengelola terus memeriksa kendaraan untuk memastikan tidak ada kunci yang ketinggalan. Mereka lalu pada duduk sambil menikmati hidangan dengan kopi di cangkir plastik.

“Kadang ada aja yang lupa kunci pak. Kita kan tetap bertanggungjawab kalau ada apa-apa Ada sih satu dua yang terbiasa lupa dan tetap kita ingatkan,” demikian dia menutup. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com