Beritabanten.com — Brain rot adalah gambaran efek negatif dari kebiasaan konsumsi media digital yang berlebihan yang lebih banyak menimpa Generasi Z. Istilah tersebut dialamatkan pada penurunan kemampuan kognitif dan mental karena kebanyakan melahap konten merugikan

Generasi Z, yang lahir antara tahun 1997 dan 2012, tumbuh di era digital dengan akses cepat ke internet, media sosial, dan berbagai platform hiburan.

Meskipun teknologi membawa banyak manfaat, seperti kemudahan akses informasi dan konektivitas, ada dampak negatif yang semakin dirasakan oleh kelompok usia ini, salah satunya adalah brain rot.

Fenomena ini mencerminkan bagaimana kebiasaan scrolling tanpa henti, menonton video pendek yang cepat, atau konsumsi informasi yang dangkal bisa mengurangi kapasitas berpikir kritis dan kemampuan menganalisis yang mendalam.

Menurut para ahli, paparan konten yang berlebihan dan cenderung remeh temeh ini bisa mengganggu perkembangan kognitif Generasi Z.

Alih-alih memproses informasi secara mendalam, banyak dari mereka lebih sering terjebak dalam siklus konsumsi informasi yang dangkal dan mudah didapat, seperti meme, video viral, dan konten yang lebih mengutamakan hiburan sesaat daripada wawasan yang bernilai.

Psikolog digital, Anindita Sari, menjelaskan, “Generasi Z sangat terbiasa dengan kecepatan informasi yang datang, tetapi ini bisa mengurangi perhatian mereka pada hal-hal yang lebih substansial.

Kebiasaan ini dapat menurunkan konsentrasi, kemampuan menyelesaikan masalah, dan bahkan memperburuk kondisi mental seperti kecemasan dan depresi.”

Meskipun demikian, tidak semua dampak digital bersifat negatif karena generasi muda juga menerima banyak manfaat dari teknologi untuk belajar dan berinovasi.

Platform seperti YouTube, TikTok, dan X bisa menjadi wadah kreatif yang mendukung pembelajaran jika digunakan dengan bijak. Namun, penting untuk menemukan keseimbangan antara hiburan dan edukasi serta mengatur waktu penggunaan teknologi.

Para ahli menyarankan agar Generasi Z mulai melakukan detox digital, yakni mengurangi waktu di depan layar dan memberi ruang untuk kegiatan yang lebih bermanfaat bagi perkembangan kognitif, seperti membaca buku, berdiskusi, atau berinteraksi dalam kegiatan sosial yang lebih mendalam.

Dengan meningkatnya kesadaran tentang efek negatif konsumsi digital, diharapkan Generasi Z bisa lebih bijak dalam menggunakan teknologi untuk mendukung perkembangan mereka, tanpa terjerumus ke dalam fenomena brain rot. (Nbl)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com