Beritabanten.com – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Tangerang Selatan membekali masyarakat dengan pemahaman manajemen stres dan Dukungan Psikologi Awal (DPA) sebagai upaya mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Kegiatan sosialisasi tersebut digelar di Pusat Pemerintahan Kota Tangerang Selatan atau Puspemkot Tangsel Kamis (18/6/2026). Program ini ditujukan untuk memperkuat peran masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang aman melalui peningkatan pemahaman kesehatan mental dan kemampuan memberikan dukungan psikologis sejak dini.

Sebanyak 30 peserta dari berbagai perangkat daerah, forum, dan majelis taklim mengikuti kegiatan tersebut. DP3AP2KB menghadirkan dua narasumber psikolog, yakni Dewi Sawitra Bintari dan Maria Yulinda Ayu Natalia.

Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak DP3AP2KB Tangsel, Irma Safitri, mengatakan perempuan memiliki peran strategis dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan harmonis. Karena itu, kelompok perempuan menjadi sasaran utama sosialisasi mengingat peran mereka yang dekat dengan keluarga maupun masyarakat.

Menurut Irma, kemampuan mengelola stres menjadi salah satu faktor penting dalam mencegah munculnya perilaku kekerasan, baik di lingkungan keluarga maupun sosial.

“Kalau sudah tahu cara mengelola stres, kita tidak akan melakukan kekerasan. Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman tentang kesehatan mental dan dukungan psikologi awal kepada ibu-ibu yang sering berinteraksi dengan jamaah maupun tetangganya,” ujar Irma.

Irma menambahkan, peningkatan pemahaman mengenai kesehatan mental menjadi salah satu langkah preventif yang perlu dilakukan secara berkelanjutan. Masyarakat yang mampu mengenali gejala stres dan tekanan psikologis sejak dini dinilai akan lebih siap mengambil langkah yang tepat sehingga potensi terjadinya konflik maupun kekerasan dapat diminimalkan.

Ruang Diskusi dan Berbagi Pengalaman

Selain membekali peserta dengan materi teoritis, kegiatan ini juga memberikan ruang diskusi dan berbagi pengalaman terkait berbagai persoalan yang kerap ditemui di lingkungan masyarakat. Melalui pendekatan tersebut, peserta diharapkan dapat lebih mudah menerapkan prinsip-prinsip dukungan psikologis awal saat menghadapi warga yang sedang mengalami tekanan emosional maupun permasalahan sosial lainnya.

Sementara itu, Sekretaris DP3AP2KB Tangsel, Enji Seppraliana, menjelaskan sosialisasi ini tidak hanya bertujuan membantu peserta mengatasi tekanan dalam dirinya sendiri, tetapi juga membekali mereka kemampuan memberikan pertolongan pertama psikologis kepada orang lain.

Menurut Enji, persoalan kesehatan mental perlu menjadi perhatian bersama karena dapat memengaruhi kualitas hubungan dalam keluarga maupun lingkungan sosial. Karena itu, kemampuan memberikan dukungan psikologis awal dinilai penting dimiliki masyarakat sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama.

Tidak semua individu yang mengalami tekanan psikologis membutuhkan penanganan medis secara langsung. Namun, kehadiran orang-orang terdekat yang mampu mendengarkan dan memberikan dukungan secara tepat dapat membantu seseorang melewati masa sulit yang sedang dihadapi.

DP3AP2KB Tangsel juga terus mendorong penguatan peran masyarakat dalam sistem perlindungan perempuan dan anak. Upaya pencegahan dinilai akan lebih efektif apabila dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan keluarga, tokoh masyarakat, organisasi keagamaan, serta berbagai komunitas di tingkat lingkungan.

Melalui peningkatan literasi kesehatan mental dan keterampilan dukungan psikologis awal, masyarakat diharapkan semakin peka terhadap tanda-tanda krisis psikologis yang dialami orang di sekitarnya sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat sebelum berkembang menjadi permasalahan yang lebih serius.

Dukungan Psikologi Awal

Dalam sosialisasi tersebut, peserta mendapatkan materi Dukungan Psikologi Awal (DPA) yang berfokus pada tiga prinsip utama, yaitu Lihat, Dengar, dan Hubungkan.

Pada tahap  ‘Lihat’, peserta diajarkan memastikan kondisi aman, mengenali kebutuhan mendesak, serta mengidentifikasi tanda-tanda distres atau tekanan psikologis pada seseorang. Selanjutnya pada tahap *Dengar*, peserta dilatih melakukan pendekatan secara empatik, mendengarkan secara aktif, serta memvalidasi perasaan individu yang sedang menghadapi masalah.

Adapun pada tahap ‘Hubungkan’ peserta diarahkan membantu memenuhi kebutuhan dasar korban, menghubungkannya dengan keluarga atau orang terdekat, hingga merujuk kepada layanan profesional seperti psikolog apabila diperlukan.

“Dukungan psikologi awal mencakup pemberian empati, kepedulian, dan mendengarkan secara aktif. Jika permasalahan tidak dapat ditangani sendiri, maka harus diarahkan kepada tenaga profesional. Yang terpenting, jangan mengambil alih masalah orang lain hingga membuat pemberi bantuan ikut mengalami stres,” kata Enji.

Kegiatan ini mengacu pada sejumlah regulasi nasional, di antaranya Undang-Undang Perlindungan Anak, Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT), Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS), serta berbagai aturan terkait perlindungan khusus anak.

Melalui kegiatan tersebut, DP3AP2KB Tangsel berharap semakin banyak perempuan memiliki kemampuan mengenali, merespons, dan memberikan dukungan awal terhadap kondisi krisis psikologis di lingkungan sekitarnya. Dengan meningkatnya kepedulian dan keterlibatan masyarakat, potensi kekerasan terhadap perempuan dan anak diharapkan dapat dicegah sejak dini. (Adv)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com