Beritabanten.com – Di tengah riuh pembeli dan pedagang sayur yang saling tawar-menawar di sekitar Pasar Ciputat, Kota Tangsel.

Selamet (47) berdiri di depan lapak kecil tempat ia biasa membantu bongkar muat barang. Keringat masih menempel di keningnya meski hari belum terlalu siang.

Di sela aktivitas itu, ia bercerita pelan tentang percakapan yang belakangan makin sering terjadi di rumah: anak sulungnya ingin kuliah setelah lulus SMA.

“Dia semangat banget mau kuliah,” kata Selamet. “Tapi saya jujur saja, kondisi kerja saya nggak tentu. Kadang cukup, kadang nggak.”

Kalimat itu tidak terdengar seperti penolakan. Lebih seperti perhitungan yang belum selesai.

Antara Dukungan dan Keterbatasan

Di keluarga pekerja sektor informal seperti Selamet, keinginan anak untuk melanjutkan pendidikan tinggi sering berhadapan langsung dengan realitas ekonomi harian. Kuliah bukan hanya soal minat, tetapi juga soal biaya, transportasi, dan keberlangsungan hidup keluarga.

Dalam psikologi pengasuhan, Diana Baumrind memperkenalkan konsep ‘parenting style’ yang membagi pola asuh menjadi otoritatif, otoriter, permisif, dan tidak terlibat. Namun dalam praktiknya, terutama di keluarga urban pekerja, batas-batas itu kerap kabur.

Selamet menggambarkan dirinya tidak sepenuhnya menolak, tapi juga belum bisa memberi kepastian. “Saya maunya dia lebih baik dari saya,” ujarnya. “Tapi ya, harus lihat kemampuan juga.”

Situasi ini sering disebut sebagai bentuk ‘conditional support’—dukungan yang ada, tetapi sangat bergantung pada kondisi ekonomi.

Otonomi Anak vs Rasa Aman Orang Tua

Menurut Edward Deci dan Richard Ryan dalam ‘Self-Determination Theory’ manusia membutuhkan otonomi, kompetensi, dan keterhubungan. Keinginan anak untuk kuliah merupakan bentuk kuat dari dorongan otonomi: menentukan masa depan sendiri.

Namun bagi orang tua, otonomi itu bisa terasa seperti risiko.

“Dia bilang kuliah itu masa depannya,” kata Selamet. “Tapi saya mikir, kalau saya nggak sanggup biayain sampai selesai, nanti dia berhenti di tengah jalan.”

Di titik ini, kebutuhan psikologis anak dan orang tua bertemu sekaligus bertabrakan: anak mengejar aktualisasi diri, orang tua menjaga stabilitas keluarga.

Identitas yang Sedang Dibentuk

Erik Erikson menyebut remaja berada pada fase ‘identity vs role confusion’, di mana mereka mencoba membangun jati diri melalui pilihan hidup, termasuk pendidikan. Sementara orang tua berada pada fase ‘generativity vs stagnation’, yakni dorongan untuk memastikan generasi berikutnya hidup lebih baik.

Namun di lapangan, dua fase ini tidak selalu berjalan selaras.

Selamet mengaku sering terjebak di tengah. “Saya nggak mau dia berhenti sekolah. Tapi saya juga nggak mau janji yang nggak bisa saya tepati.”

Kuliah, Harapan, dan Realitas Harian

Di kawasan seperti Ciputat, kuliah sering dipandang sebagai jalan keluar dari pekerjaan serabutan yang tidak menentu. Namun jalan itu tidak selalu lurus. Banyak keluarga harus memilih antara menabung bertahun-tahun, mencari beasiswa, atau meminta anak bekerja lebih dulu.

Bagi Selamet, semua opsi itu masih terbuka—tapi belum ada yang benar-benar pasti.

“Kalau ada rezeki dan beasiswa, saya dorong,” katanya. “Tapi kalau nggak ada, ya harus pikir ulang.”

Di sekelilingnya, aktivitas Pasar Ciputat terus bergerak tanpa jeda. Orang datang dan pergi, transaksi selesai dalam hitungan menit. Namun keputusan tentang masa depan anaknya tidak sesederhana itu.

Antara Harapan dan Ketakutan

Sore menjelang, Selamet kembali ke pekerjaannya. Di rumah, anaknya masih membuka ponsel, mencari informasi kampus dan peluang bantuan pendidikan.

Tidak ada keputusan final hari itu. Hanya ruang abu-abu yang akrab di banyak keluarga: antara keinginan anak untuk melompat lebih jauh, dan orang tua yang masih menghitung agar tidak jatuh terlalu dalam.

Dan di tengah pasar yang tak pernah benar-benar sepi, masa depan itu masih menunggu—pelan, tidak pasti, tapi tetap bergerak. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com