Beritabanten.com – Hujan datang tidak pernah atas nama undangan, tapi dia datang dengan sendirinya. Satu sisi dia mendatangkan sumber kehidupan tapi pada sisi malah menjadi bencana banjir.

Sejak Sabtu 4 April 2026 sore, langit di atas Kota Tangerang Selatan seperti membuka pintunya lebar-lebar. Air jatuh dalam intensitas tinggi, membasahi jalan, halaman rumah, hingga akhirnya memenuhi saluran-saluran yang selama ini menjadi tumpuan harapan: drainase kota.

Namun drainase kota gagal menjadi tumpuan harapan karena tidak cukup kuat menahan air yang begitu besar di setiap sudut kota.

Sedikit demi sedikit, air meluap. Dari kali yang tak lagi mampu menampung, dari saluran yang tersumbat waktu, dari sistem yang bekerja di ambang batasnya. Lalu, seperti cerita yang berulang, genangan berubah menjadi banjir.

Pantauan media, terdapat 21 titik yang tersebar di Kecamatan Pamulang, Ciputat, Serpong, hingga Setu, air mengambil alih bahu jalan.

Jalanan yang biasanya ramai kendaraan berubah menjadi aliran keruh. Gang-gang sempit menjadi sunyi, tergantikan oleh riak air yang masuk tanpa permisi ke dalam rumah.

Bagi warga, banjir bukan sekadar peristiwa alam. Ia adalah gangguan pada ritme hidup. Pekerjaan tertunda, anak-anak tak bisa bersekolah, dan aktivitas harian seketika terhenti.

Di dalam rumah yang terendam, waktu berjalan berbeda.

Barang-barang diangkat seadanya. Perabot diselamatkan sebisanya. Ada yang memilih bertahan, ada pula yang mengungsi. Di posko-posko darurat, wajah-wajah lelah berkumpul—membawa cerita yang serupa, tetapi dengan beban yang masing-masing terasa pribadi.

Di tengah situasi itu, pemerintah kota hadir dengan satu hal yang sering kali terasa sederhana, tetapi penting: pengakuan.

Permohonan maaf disampaikan kepada warga. Sebuah gestur yang mengakui bahwa ada ketidaknyamanan, ada kerugian, dan ada harapan yang belum terpenuhi.

Namun, seperti banjir itu sendiri, persoalan ini tidak sesederhana satu kalimat permintaan maaf.

Air yang meluap bukan hanya akibat hujan deras. Ia adalah hasil dari pertemuan banyak hal: pertumbuhan kota yang cepat, perubahan tata ruang, kapasitas drainase yang terbatas, hingga pola cuaca yang semakin ekstrem.

Kota berkembang, tetapi sering kali infrastruktur tertinggal.

Saluran air yang dulu cukup, kini kewalahan. Tandon yang dirancang untuk menampung, kini tak lagi memadai. Dan sungai yang menjadi jalur akhir, tak jarang kehilangan ruangnya sendiri.

Di titik inilah banjir menjadi lebih dari sekadar peristiwa musiman. Ia berubah menjadi pengingat—bahwa ada yang perlu dibenahi, bukan hanya hari ini, tetapi untuk waktu yang lebih panjang.

Di lapangan, respons cepat tetap berjalan.

Petugas dari berbagai dinas dikerahkan. Evakuasi dilakukan bagi warga yang membutuhkan. Bantuan logistik disalurkan ke posko-posko pengungsian. Ada upaya untuk memastikan bahwa dalam kondisi sulit, negara tetap hadir.

Tetapi di balik kerja-kerja darurat itu, ada pertanyaan yang lebih besar yang perlahan mengemuka: sampai kapan?

Pemerintah Kota Tangerang Selatan atau Pemkot Tangsel kini berbicara tentang langkah-langkah ke depan. Normalisasi drainase menjadi prioritas. Pengerukan tandon akan dilakukan lebih masif. Dan yang tak kalah penting, pembangunan tanggul permanen direncanakan untuk kawasan yang berbatasan langsung dengan sungai.

Langkah-langkah itu terdengar teknis, tetapi sesungguhnya menyentuh hal yang paling mendasar: rasa aman.

Sebab bagi warga, hujan seharusnya tidak selalu berarti ancaman.

Di sisi lain, masyarakat pun menunjukkan wajah lain dari kota: solidaritas.

Tetangga saling membantu. Mereka berbagi makanan, tenaga, bahkan sekadar tempat untuk beristirahat. Dalam situasi sulit, batas-batas sosial menjadi lebih cair. Yang tersisa hanyalah kesadaran bahwa semua sedang menghadapi hal yang sama.

Banjir, dalam cara yang tak diinginkan, mempertemukan orang-orang dalam satu pengalaman kolektif.

Namun pengalaman itu bukan tanpa kelelahan.

Bagi mereka yang sudah berkali-kali terdampak, ada rasa jenuh yang sulit diungkapkan. Setiap musim hujan membawa kekhawatiran yang sama. Setiap awan gelap memunculkan pertanyaan yang tak pernah benar-benar hilang: apakah air akan datang lagi?

Dan ketika air benar-benar datang, pertanyaan itu berubah menjadi kenyataan yang harus dihadapi.

Ketika banjir nanti surut—dan ia pasti akan surut—kota akan kembali bergerak. Jalanan akan kering, aktivitas pulih, dan rutinitas perlahan kembali seperti semula.

Tetapi jejaknya tidak sepenuhnya hilang.

Ia tertinggal dalam ingatan warga. Dalam barang-barang yang rusak. Dalam waktu yang terbuang. Dan dalam harapan yang kembali disusun—bahwa kejadian serupa tidak akan terulang.

Kota, pada akhirnya, bukan hanya soal bangunan, jalan, atau sistem drainase. Ia adalah tentang bagaimana sebuah ruang hidup mampu melindungi mereka yang tinggal di dalamnya.

Banjir ini menjadi cermin.

Cermin yang memperlihatkan apa yang sudah berjalan, dan apa yang masih perlu diperbaiki. Cermin yang menuntut bukan hanya reaksi cepat, tetapi juga perencanaan yang matang.

Dan mungkin, yang paling penting, banjir ini menjadi pengingat bahwa kota harus terus belajar.

Belajar membaca tanda-tanda alam. Belajar mendengar suara warganya. Dan belajar bergerak lebih cepat—bukan ketika air sudah datang, tetapi sebelum itu terjadi.

Sebab hujan akan selalu turun.

Pertanyaannya bukan lagi apakah banjir akan datang, tetapi apakah kota sudah cukup siap ketika air itu kembali mengetuk. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com