Beritabanten.com — Suasana hangat dan penuh haru menyelimuti kegiatan halal bihalal yang digelar oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangsel di salah satu hotel di Serpong, Tangsel pada Kamis 2 April 2026.
Dalam momen yang sarat makna tersebut, Sekertaris Umum MUI Kota Tangsel KH Abdul Rojak atau KH Rojak, mengajak umat Islam untuk tidak hanya menjadikan tradisi ini sebagai seremoni tahunan, melainkan sebagai jalan kembali mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Di hadapan para jamaah, KH Rojak menyampaikan bahwa halal bihalal sejatinya adalah ruang batin untuk membersihkan hati—bukan hanya dari kesalahan kepada sesama manusia, tetapi juga dari kelalaian kepada Sang Pencipta.
“Sering kali kita sibuk meminta maaf kepada manusia, tetapi lupa memperbaiki hubungan kita dengan Allah. Padahal, inti dari semua ini adalah bagaimana kita kembali merekatkan diri kepada-Nya,” ujarnya dengan nada penuh kehangatan.
Ia menggambarkan, setelah sebulan penuh umat Islam ditempa dalam ibadah Ramadan—menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu—Idulfitri seharusnya menjadi titik balik. Bukan sekadar kemenangan simbolik, melainkan awal dari perjalanan spiritual yang lebih dalam.
Menurutnya, halal bihalal adalah jembatan yang menghubungkan dua dimensi kehidupan: hubungan horizontal antar manusia dan hubungan vertikal dengan Allah SWT. Keduanya, kata dia, tidak bisa dipisahkan.
“Kalau kita sudah saling memaafkan, hati menjadi lapang. Tapi jangan berhenti di situ. Gunakan kelapangan itu untuk lebih dekat kepada Allah, memperbaiki ibadah, memperbanyak dzikir, dan menjaga keikhlasan,” tuturnya.
Dalam suasana yang khidmat, ia juga mengingatkan bahwa luka batin, kesalahpahaman, hingga konflik yang terjadi selama ini harus benar-benar dilepaskan. Sebab, memaafkan bukan hanya ucapan di bibir, tetapi keikhlasan yang lahir dari hati.
“Tidak mudah memaafkan, apalagi jika luka itu dalam. Tapi di situlah letak kemuliaannya. Orang yang mampu memaafkan dengan tulus, derajatnya ditinggikan oleh Allah,” katanya.
Lebih jauh, KH Abdul Rojak menekankan pentingnya menjaga silaturahmi sebagai warisan nilai yang tidak boleh luntur. Ia menyebut, di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan individualistis, halal bihalal menjadi pengingat bahwa manusia tetap membutuhkan kebersamaan dan kasih sayang.
“Jangan sampai halal bihalal hanya menjadi formalitas. Datang, salaman, lalu selesai. Jadikan ini momentum perubahan—memperbaiki diri, memperbaiki hubungan, dan memperkuat iman,” ucapnya.
Ia pun mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan momen ini sebagai awal kehidupan yang lebih baik, dengan hati yang bersih dan niat yang lurus.
“Semoga setelah ini kita tidak kembali menjadi pribadi yang sama seperti sebelum Ramadan. Mari kita jaga hati, jaga lisan, dan terus mendekat kepada Allah. Karena pada akhirnya, kepada-Nya lah kita semua akan kembali,” pungkasnya.
Suasana pun ditutup dengan doa bersama, diiringi harapan agar nilai-nilai halal bihalal tidak hanya hidup dalam tradisi, tetapi juga tertanam kuat dalam kehidupan sehari-hari umat. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan