Beritabanten.com – Di sebuah wilayah di ujung barat Pulau Jawa, sejarah tidak hadir sebagai catatan kaku. Ia hidup dalam cerita, dalam legenda, bahkan dalam bunyi yang konon pernah menggema. Bukan sembarang bunyi, tapi dentuman dentuman meriam kala melawan penjajahan.
Pandeglang, hari ini dikenal sebagai salah satu kabupaten di Provinsi Banten, menyimpan lapisan waktu yang panjang—membentang dari masa kesultanan, kolonialisme, hingga terbentuknya sistem pemerintahan modern. Pada usia ke-152 tahun, wilayah ini bukan sekadar entitas administratif, melainkan ruang ingatan kolektif yang terus diwariskan.
Jejak awal Pandeglang tak bisa dilepaskan dari kejayaan Kesultanan Banten pada abad ke-16. Pada masa itu, kawasan ini berada dalam orbit kekuasaan yang menjadikan Banten sebagai simpul perdagangan sekaligus pusat penyebaran Islam di Nusantara. Aktivitas ekonomi dan budaya berkembang, membentuk karakter masyarakatnya.
Ada satu kisah yang kerap disebut ketika membicarakan asal-usul nama Pandeglang. Sebuah teori mengaitkannya dengan istilah “pandai gelang”—merujuk pada keterampilan masyarakat dalam mengolah logam. Jika benar, maka nama itu adalah penghormatan terhadap keahlian, terhadap tangan-tangan terampil yang menempa identitas daerah.
Namun sejarah tak hanya disusun oleh fakta, melainkan juga oleh legenda. Cerita tentang Meriam Si Amuk menjadi bagian dari narasi yang hidup di tengah masyarakat. Konon, dentuman meriam itu terdengar hingga wilayah Pandeglang. Sebuah kisah yang mungkin tak sepenuhnya dapat diverifikasi, tetapi tetap bertahan sebagai warisan lisan yang memberi warna pada sejarah lokal.
Memasuki abad ke-19, perubahan mulai terasa. Ketika kekuasaan kolonial Belanda menguat, struktur pemerintahan di wilayah Banten ikut mengalami penataan ulang. Sekitar tahun 1828, Pandeglang masih menjadi bagian dari Kabupaten Serang, berstatus sebagai kawedanan—sebuah unit administratif yang lebih kecil.
Dari titik itulah, proses menuju pembentukan daerah otonom perlahan berlangsung. Administrasi modern diperkenalkan, batas wilayah ditegaskan, dan sistem pemerintahan mulai dibakukan. Pandeglang bertransformasi, dari wilayah dalam bayang-bayang kesultanan menjadi entitas yang berdiri dalam kerangka negara modern.
Hari ini, ketika usia ke-152 diperingati, Pandeglang tak hanya melihat ke depan, tetapi juga menengok ke belakang. Pada jejak-jejak sejarah itulah identitas dibangun—dari keterampilan para pandai logam, dari cerita meriam yang menggema, hingga dari perubahan struktur kekuasaan yang membentuknya.
Sejarah Pandeglang adalah perjalanan panjang tentang adaptasi. Tentang bagaimana sebuah wilayah bertahan, berubah, dan terus menemukan dirinya di tengah arus zaman. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan