Beritabanten.com – Di tengah masyarakat Sunni, anggapan ini sering beredar. Syiah punya mushaf Al-Qur’an sendiri. Berbeda dari yang kita baca. Isu ini muncul berulang-ulang. Di ceramah. Di potongan video. Di debat media sosial. Sering diulang. Tapi jarang dijelaskan dengan utuh.

Mari kita luruskan dari awal. Hari ini, saya pastikan, tidak ada mushaf fisik Al-Qur’an versi Syiah yang berbeda dan beredar di dunia Islam. Tidak di Iran. Tidak di Irak. Tidak di Lebanon. Juga tidak di komunitas Syiah di negara lain. Mushaf yang dibaca dalam shalat sama. Yang dihafal sama. Yang dipelajari di pengajian juga sama. Itulah mushaf yang juga dibaca oleh umat Islam Sunni.

Lalu kenapa isu ini tidak pernah mati? Karena akar masalahnya bukan di mushaf yang dibaca hari ini. Melainkan di sebagian literatur klasik dan riwayat lama. Ditulis ratusan tahun lalu. Lalu dibaca mentah-mentah. Digeneralisasi. Dan diwariskan tanpa klarifikasi.

Masalah bertambah ketika mushaf disamakan dengan tafsir. Padahal keduanya tidak identik. Mushaf adalah teks. Tafsir adalah penjelasan manusia. Bisa benar. Bisa keliru. Bahkan bisa problematis. Tafsir yang bermasalah tidak otomatis berarti mushafnya berbeda.

Kita pernah punya pengalaman. Anda masih ingat QS. Al-Maidah 51. Perubahan terjemah kata awliya, dari “pemimpin” menjadi “teman setia”, dianggap mengubah Al-Quran. Padahal, beda antara al-Quran dan terjemahan. Al-Quran sakral. Terjemahan ijtihad manusia dlm memahami. Bisa benar. Bisa salah. Bisa berubah.

Karena itu, sebelum sibuk menuduh atau membela, ada satu langkah sederhana: membedakan dengan jernih. Mana yang benar-benar dibaca umat Islam hari ini. Dan mana yang hanya hidup dalam perdebatan teks lama.

Di tulisan berikutnya, kita akan bahas apa sebenarnya perbedaan antara mushaf dan tafsir. Dan di titik mana kesalahpahaman antara sunnah-syiah soal Al-Quran itu bermula. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com