Beritabanten.com – Dua pemimpin redaksi media angkat bicara terkait prospek zakat sebagai salah satu instrumen penting dalam ekenomi Nasional.

Mereka adalah Pemimpin Redaksi Kompas.com, Amir Sodikin dan Pemimpin Redaksi Republika, Andi Muhyiddin, yang menjadi pembicara pada acara Z-Talk: Zakat Menguatkan Indonesia yang digelar di Gedung BAZNAS RI, Kecamatan Matraman,  Jakarta Timur, Senin (2/2/2026).

Z-Talk merupakan salah satu kegiatan tatap muka antara pimpinan BAZNAS dengan praktisi/pimpinan media massa.

Tujuan diselenggarakannya agenda ini adalah sebagai wadah untuk meningkatkan komunikasi dan koordinasi antara pimpinan di lingkungan BAZNAS dengan awak media massa, serta untuk motivasi dan produktivitas kerja.

Pemimpin Redaksi Kompas.com, Amir Sodikin, menilai zakat memiliki posisi strategis dalam sistem ekonomi modern karena berfungsi sebagai instrumen distribusi kekayaan yang mampu mencegah ketimpangan sosial dan memperkuat ekonomi keluarga.

Menurutnya, zakat tidak hanya bertujuan menggugurkan kewajiban agama, tetapi menjadi mekanisme aktif untuk mengalirkan likuiditas langsung ke masyarakat bawah.

“Zakat adalah arsitektur ekonomi yang sejak awal dirancang untuk menghindari ketimpangan. Dalam Islam, distribusi kekayaan tidak menunggu trickle down effect, tetapi diwajibkan mengalir langsung dari pemilik modal kepada masyarakat yang membutuhkan,” ujar Amir.

Lebih lanjut, Amir menekankan pentingnya peran media dalam menarasikan zakat sebagai solusi pembangunan. Menurutnya, BAZNAS perlu dipahami publik bukan hanya sebagai lembaga filantropi, tetapi sebagai institusi pembangunan sosial-ekonomi yang bekerja secara sistematis dan terukur.

“Kepercayaan publik lahir dari narasi yang kuat dan konsisten. Program-program BAZNAS yang menyasar kemiskinan ekstrem, penguatan ekonomi, hingga mendorong mustahik naik kelas harus terus dikomunikasikan secara luas,” ujarnya.

Adapun Pemimpin Redaksi Republika, Andi Muhyiddin, menyampaikan, media dan lembaga filantropi memiliki kesamaan peran, yakni membangun dan menjaga kepercayaan publik.

Ia menilai zakat merupakan potensi sosial besar yang dapat menjadi sistem distribusi keadilan, instrumen penguatan ekonomi umat, sekaligus pilar ketahanan sosial.

“Media tidak cukup hanya meliput, tetapi juga perlu bertransformasi menjadi penggerak kesadaran publik. Zakat harus diposisikan sebagai solusi nyata bagi persoalan sosial dan ekonomi,” kata Andi.

Melalui forum ini, BAZNAS RI bersama insan media sepakat untuk memperkuat kolaborasi dalam membangun narasi zakat yang berdampak, inklusif, dan relevan dengan tantangan pembangunan nasional, demi mewujudkan Indonesia yang lebih kuat dan berkeadilan.

Diberitakan, Kepemimpinan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI memasuki lima tahun terakhir sejak disahkan oleh Presiden Joko Widodo atau Jokowi pada tahun 2020.

Menurut UU No. 23 Tahun 2011 Tentang Pengeolaan Zakat, BAZNAS RI adalah badan resmi satu-satunya yang berwenang melakukan pengelolaan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) secara nasional.

Dia sebagai lembaga pemerintah nonstruktural yang bersifat mandiri dan bertanggung jawab kepada Presiden melalui Menteri Agama dengan periode kepemimpinan selama lima tahun.

Ketua BAZNAS RI KH Noor Achmad menyatakan bahwa memasuki lima tahun terakhir kepemimpinan, berbagai program telah digulirkan BAZNAS terutama dalam hal penanganan bencana.

Dia juga menyatakan dalam menyambut Ramadhan 2026, diluncurkan program ‘515 Miliar Bisa’ sebagai cara untuk menggali potensi zakat tahun ini yang dihitung sebesar 300 triliun.

Jumlah tersebut sebagai pertambahan 30 persen dari tahun lalu dengan yang terbesar dari zakat perusahaan, sisanya dari zakat fitrah, ritel dan lainnya.

Meski banyak tantangan ekonomi nasional maupun global yang masih belum teratasi, BAZNAS RI tetap optimis dalam merealisasikan target tersebut berdasarkan pengalaman semasa krisis sebelumnya yang tetap mendapat donasi dalam jumlah banyak. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com