Beritabanten.com – Darurat sampah melanda Kota Tangerang Selatan jadi momentum membangkitkan pengelohan sampah mandiri. Potensi di sekelilng dimanfaatkan optimal untuk melahirkan alat sederhan tapi tepat guna.

Itu terjadi di Perumahan Bukit Nusa Indah, Kelurahan Serua, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Warga menjadi kreatif sekaligus peduli pada darurat sampah yang melanda Kota Tangerang Selatan.

Patut ditiru oleh daerah lain di tengah upaya serius Pemkot Tangsel mencari solusi taktis atas penanganan sampah yang kini masih jadi persolaan di kota selatan Jakarta ini.

Warga setempat secara mandiri menyulap tong penampung air menjadi komposter yang berfungsi sebagai wadah penguraian sampah organik.

Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya warga dalam membangun lingkungan yang lebih bersih dan sehat melalui pengelolaan sampah berbasis komunitas.

Komposter tersebut dirancang untuk menampung dan mengolah sampah organik dari sisa makanan, daun, dan limbah dapur lainnya.

Tak hanya itu, warga juga mengembangkan berbagai metode pengelolaan sampah ramah lingkungan, mulai dari pembuatan lubang biopori hingga perencanaan pembentukan bank sampah untuk mengelola sampah non-organik.

Pengelohan Sampah Mandiri

Pengelolaan sampah mandiri ini mencakup tiga RW dengan total 26 RT di Perumahan Bukit Nusa Indah tersebut.

Menariknya, proses pembuatan komposter dilakukan secara gotong royong oleh para warga, termasuk bapak-bapak yang sebagian besar berusia di atas 50 tahun. Meski tak lagi muda, keterampilan dan semangat mereka dalam menciptakan solusi lingkungan tak diragukan.

Salah satu penggerak kegiatan, Hohan Barazing (60), mengatakan bahwa inisiatif ini lahir dari kesadaran bersama warga akan pentingnya pengelolaan sampah dari sumbernya.

“Kami membuat ini untuk mengatasi permasalahan sampah di 3 RW. Ini kita lakukan juga sebagai upaya untuk membantu pemerintah melakukan pengelolaan sampah,” ujar Hohan saat ditemui di lokasi, dinukil dari laman resmi Pemkot Tangsel, pada Selasa (06/01/2026).

Pengelolaan sampah yang dilakukan ini juga dilalukan secara mandiri atau dengan biaya swadaya dari masyarakat sekitar. Dengan peralatan sederhana, warga bahu-membahu memotong dan merakit tong menjadi komposter yang siap digunakan.

Pupuk Kompos dan Pupuk Cair

Nantinya, hasil penguraian sampah organik ini akan dimanfaatkan kembali sebagai pupuk kompos dan pupuk cair yang kaya nutrisi untuk menyuburkan tanaman di lingkungan sekitar.

Hohan menambahkan, pengelolaan sampah mandiri juga bertujuan membentuk budaya sadar kebersihan di tengah masyarakat, sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada pihak lain.

“Ini berkonsep dari warga untuk warga. Jadi harus bisa mandiri, nanti kami akan sosialisasikan dan membuat aturan bersama pak RT dan pak RW,” ujarnya.

Pada tahap awal, warga menargetkan pembuatan 40 unit komposter untuk memenuhi kebutuhan tiga RW. Setiap unit komposter dibuat dengan biaya sekitar Rp450 ribu, yang seluruhnya berasal dari swadaya masyarakat.

Nilai Guna dan Nilai Ekonomis

Selain berdampak pada kebersihan lingkungan, program ini juga diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran bahwa sampah memiliki nilai guna dan nilai ekonomi jika dikelola dengan baik.

“Jadi masayrakat juga harus sadar bahwa sampah dan limbah ini juga memiliki nilai ekonomi dan bisa membuat lingkungan sehat. Untuk komposter sendiri nanti bisa menjadi pupuk cair dan pupuk kompos,” tuturnya.

Inisiatif warga Bukit Nusa Indah ini menjadi contoh nyata bahwa pengelolaan sampah berbasis komunitas dapat berjalan efektif melalui semangat gotong royong dan kepedulian bersama. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com