Beritabanten.com – Pimpinan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) KH Taufik Setyaudin meminta anak muda bersama-sama membangkitkan kekuatan kedermawanan.
Nantinya, kemandirian umat akan lahir karena beragam program pemberdayaan dari donasi kedermawanan hadir di lapangan, termasuk bagi kalangan anak muda.
Dia menyampaikan hal tersebut pada sebanyak 30 orang anak muda Tangsel yang mengikuti acara Pendidikan Kader Ulama atau PKU oleh Majelis Ulama Indonesia atau MUI Kota Tangsel.
Acara dihelat di Hotel Vega, Gading Serpong Kecampatan Kelada Dua Kabupaten Tangerang pada Selasa-Kamis 21-24 Juli 2025.
“Berdasarkan laporan World Giving Index (WGI) 2024 oleh badan amal Charities Aid Foundation (CAF), Indonesia kembali menjadi negara paling dermawan di dunia,” katanya ketika mengisi sesi acara bertemakan Zakat dan Kemandirian Ekonomi Umat kemarin.
Prestasi mencengangkan tersebut, disebut dia, terjadi sebanyak tujuh kali berturut-turut yang menandakan kuat sebagai panggilan bagi semua pihak, terutam anak muda tidak ragu untuk menjadi mandiri dengan mendorong pendayagunaan zakat.
Karena kata dia, zakat sebagai bagian dari filantroni atau kedermawanan. Filantropi itu sendiri merupakan praktik sukarela untuk memberikan sumber daya berupa waktu, tenaga, pikiran dan harta untuk kepentingan umat.
“Tujuan filantropi adalah untuk meningkatkan kesejahteraan sosial, mengurangi ketimpangan sosial dan ekonomi, mendorong partisipasi warga dalam kehidupan sosial sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan,” tegas dia.

Misi Kemanusiaan
Kandidat doktoral filantropi UIN Kalijaga Jogjakarta tersebut menyebut Indonesia Emas 2045 setali tiga uang dengan misi kemanusiaan filantropi tadi yang dalam komponen demografinya separuh lebih diisi oleh kalangan anak muda yakni yang berusia 16-64 tahun.
“Sesi pembukaan kemarin Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie mengajak kita semua untuk menyadari tantangan di masa mendatang ada di pundak kaula muda itu. Temen-temen harus berani mengambil peran,” pinta dia.
Dirinya yang membidangi pengumpulan dan pendistribusian di BAZNAS Tangsel mengakui potensi kedermawan tersebut telah menyelamatkan banyak kaum dhuafa yang berdatangan ke kantor.
“Sumbernya ya dari zakat sebagai harta yang wajib dikeluarkan seorang muslim berdasarkan ketentun syariat, Sedekah dari perorangan dan perusahaan di luar zakat, wakaf yang berbentuk jariah dan Dana sosial kegamaan lainnya,” beber dia.
Tantangan dan Harapan
Meski demkian, Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut mengingatkan tantangan dan harapan yang terjadi di lapangan terkait zakat dan kemandirian umat.
Menurut dia, zakat masih sekedar dipahami sebagai sebagai kewajiban agama mengingat hitungan potensi nasional tidak berbanding lurus dengan kenyataan pendapatan di lapangan, itu yang pertama.
Kedua, pemahaman masyarakat tentang zakat masih rendah sehingga butuh peran aktif semua pihak untuk menggemakan literasi zakat.
Ketiga, terdapat kepercayaan publik yang masih kurang terhadap lembaga zakat yang pada gilirannya sulit memberikan dana kedermawanan itu.

Program Pengelolaan Zakat
Padahal lembaga zakat selama ini bediri sejak zaman kolonial dan disahkan oleh undang-undagn sejak tahun 1999 telah menelorkan beragam program yang sarat dengan kosakata kepedulian sosial.
Lembaga zakat mempunyai perhatian serius pada masalah ekonomi berupa bantuan alat usaha, pemberdayaan ekonomi kreatif dan aktif, santri entrepreneur, urban farm, bantuan modal usaha, Z-Mart dan Z-Cicken.
“Pemberyaan ekonomi menjadi lokus pertama karena akan berdampak langsung pada kemandirian ekonomi,” jelas dia.
Setelah itu, menyasar pada program pendidikan berupa beasiswa tingkat SLPT/MTs, SLTA/MA, Islamic Holiday Cam, dan Santunan Yatim Miskin.
“BAZNAS Kota Tangsel juga memberikan bantuan sembako, gerakan amal untuk Lansia atau GAUL, korban kekerasan seksual-KDRT serta buruh mingran. Dan terakhir Rehab Rumah Tidak Layak Huni,” jelas dia.
Selebihnya, kata dia, BAZNAS Kota Tangsel juga memberikan bantuan PHB, bantuan guru TPA, TPQ/Diniyah, Bantuan Imam Masjid, Duta Zakat dan Pemulasaran Jenazah. Untuk kesehatan warga disalurkan Bantuan Alat Kesehatan, Bantuan Biaya Berobat dan Penanganan Stunting.
“Program itu semua merupakan pemanfaatan zakat secara optimal tanpa mengurangi nilai dan kegunaanya di lapangan. Ada berbentuk produktif berupa permodalan dan penanganan langsung pada nestapa kemanusiaan di Tangsel,” demikian dia menutup. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan