Beritabanten.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami kenaikan tipis di awal perdagangan hari Kamis, 15 Mei 2025.

Meski bergerak positif, posisi rupiah dinilai masih rentan terhadap tekanan dari faktor luar negeri, terutama dari kondisi ekonomi AS.

Saat perdagangan dibuka di Jakarta, rupiah tercatat menguat 1 poin atau setara 0,01 persen ke level Rp16.561 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah berada di posisi Rp16.562 per dolar AS.

Menurut Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, penguatan dolar AS didorong oleh perkembangan positif dalam negosiasi antara Amerika Serikat dan China terkait penurunan tarif impor.

“Hasil kesepakatan antara AS dan China berdampak pada menurunnya tarif impor, sehingga harga barang-barang konsumsi dari China menjadi lebih terjangkau di pasar AS. Ini memperkuat ekonomi mereka dan membuat dolar AS ikut menguat,” kata Ariston, dikutip dari Antara, Kamis (15/5/2025).

Pada Rabu, 14 Mei 2025, dolar AS sempat melemah karena kekhawatiran bahwa kenaikan tarif dari China akan menghambat konsumsi domestik di AS. Namun, setelah kesepakatan penurunan tarif dicapai, persepsi pasar berubah dan dolar kembali menguat.

Ariston juga menambahkan bahwa indeks dolar AS pada pagi hari masih menunjukkan kecenderungan menguat, sementara mayoritas mata uang di kawasan Asia cenderung melemah terhadap dolar AS.

Dari sisi domestik, Ariston menyoroti sejumlah faktor yang dapat mempengaruhi kinerja rupiah. Di antaranya adalah tingginya angka pemutusan hubungan kerja (PHK) pada kuartal pertama tahun ini, serta pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang belum mampu menembus angka 5 persen karena lemahnya konsumsi masyarakat.

Ia memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih berpotensi membawa nilai tukar ke kisaran Rp16.680 per dolar AS, dengan batas bawah di area Rp16.500.

Sebelumnya, rupiah tercatat masih berada di posisi lemah, dengan penutupan pada 9 Mei 2025 di kisaran Rp16.500 perhttps://beritabanten.com/tag/dolar-as/ dolar AS.

Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menyampaikan bahwa rupiah termasuk salah satu mata uang Asia yang belum menunjukkan kestabilan terhadap dolar AS dalam beberapa waktu terakhir.

“Jika melihat data penutupan pada 9 Mei lalu yang masih di kisaran Rp16.500, bisa dibilang rupiah masih menunjukkan tekanan dan belum stabil dibandingkan mata uang Asia lainnya,” ujar Josua di kantor Permata Bank, Jakarta.

Ia menambahkan bahwa ekspektasi perlambatan ekonomi Indonesia menjadi salah satu faktor utama yang menekan rupiah. Hal ini turut memicu keluarnya investor asing dari pasar saham, karena proyeksi pertumbuhan yang melambat berpotensi mengurangi pendapatan perusahaan.

Josua juga menjelaskan bahwa tidak hanya pasar saham yang terkena dampak, tapi juga pasar obligasi. Saat ini, imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia masih berada di bawah level 6,8 hingga 6,9 persen, yang menunjukkan rendahnya minat investor terhadap instrumen tersebut. (Sra)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com