Beritabanten.com – Pendakwah Gus Miftah menjadi perbincangan hangat publik karena pernyataan tajamnya yang ditujukan kepada sejumlah pihak yang mengklaim diri sebagai keturunan Kiai Ageng Muhammad Besari.

Dalam salah satu pengajian akbarnya, penceramah kondang tersebut menyampaikan sindiran keras terhadap mereka yang mengaku sebagai keturunan, namun tidak menunjukkan penghormatan kepada sang leluhur.

“Saya kecewa kepada mereka yang sibuk mengaku sebagai cucu Kiai Ageng Muhammad Besari, tapi tidak berkontribusi dalam acara keagamaan ataupun menjaga peninggalan sejarah leluhur,” kata Gus Miftah dengan tegas.

Menurutnya, pengakuan sebagai keturunan ulama besar harus diiringi dengan tindakan nyata, bukan sekadar klaim kosong.

Kekecewaan Gus Miftah semakin memuncak ketika ia membahas kondisi makam Kiai Ageng Muhammad Besari yang dinilai kurang terawat.

“Semuanya rebutan merasa cucunya Mbah Muhammad Besari, tapi enggak mau merawat makamnya Mbah Muhammad Besari,” ucapnya dengan nada kesal.

Ia juga mengungkapkan bahwa ada pihak-pihak yang mengajukan proposal bantuan ke berbagai tempat, namun hasilnya tidak digunakan untuk merawat makam tersebut.

“Bikin proposal ke sana-sini tapi hasilnya nggak buat makam. Yang modelnya kayak gitu, jan**k banget,” tambahnya dengan kekesalan yang semakin terlihat.

Pernyataan Gus Miftah ini memicu perdebatan sengit di media sosial, khususnya di platform X (dulu Twitter). Beberapa warganet mengkritik keras tutur bahasa Gus Miftah, menyebutnya tidak mencerminkan sosok seorang ulama.

“Kalau kelakuannya masih seperti jan**k, tidak usah memaksakan diri mengaku sebagai keturunan kiai,” tulis salah satu warganet yang mengkritik keras.

Namun, tidak sedikit juga yang memberikan dukungan kepada Gus Miftah. Mereka berpendapat bahwa pernyataan tersebut merupakan bentuk kekecewaan yang wajar terhadap sikap abai terhadap peninggalan leluhur.

“Ini adalah bentuk keprihatinan terhadap generasi yang hanya mengaku sebagai keturunan, tetapi tidak peduli untuk merawat dan menjaga peninggalan leluhur,” ujar seorang warganet yang mendukung.

Setelah mendapat bantahan tegas dari keturunan ke-8 Kiai Ageng Muhammad Besari, Gus Miftah menyadari bahwa pengakuan sebagai keturunan bukanlah hal yang penting.

“Saya enggak perlu diakui cucu enggak apa-apa, tapi kalau ada acara aku bantuin,” tegas Gus Miftah, mengedepankan sikap untuk tetap membantu acara keagamaan meski tanpa pengakuan formal sebagai keturunan.

Kontroversi ini memunculkan polemik baru tentang tanggung jawab moral keturunan terhadap leluhur mereka. Banyak yang berpendapat bahwa pengakuan terhadap keturunan ulama besar harus dibarengi dengan kepedulian terhadap warisan dan peninggalan sejarah yang mereka tinggalkan.

Perdebatan mengenai pernyataan Gus Miftah ini juga menyoroti pentingnya menjaga peninggalan sejarah dan menunjukkan rasa hormat kepada leluhur bukan hanya dengan klaim, tetapi juga dengan tindakan nyata yang bermanfaat bagi masyarakat dan keluarga besar. (Nbl)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com