Beritabanten.com – Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) mengundang keluarga Presiden ke-4 Indonesia, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, di Nusantara V Gedung DPR/MPR/DPD, Jakarta, pada Minggu (29/9/2024).

Dalam acara tersebut, pimpinan MPR RI menyerahkan surat rekomendasi untuk mencabut TAP MPR Nomor II/MPR/2001 tentang Pertanggungjawaban Presiden Republik Indonesia, KH Abdurrahman Wahid, kepada istri Gus Dur, Sinta Nuriyah Wahid. Surat tersebut ditandatangani oleh 10 pimpinan MPR RI.

Berdasarkan kesepakatan, pimpinan MPR RI setuju untuk mencabut TAP MPR Nomor II/MPR/2001 sesuai dengan permintaan Fraksi PKB.

Keputusan tersebut bertujuan untuk memulihkan nama baik Gus Dur, yang sebelumnya dituduh terlibat dalam kasus korupsi selama masa pemerintahannya.

“Menegaskan bahwa Ketetapan MPR Nomor II/MPR/2001 tentang Pertanggungjawaban Presiden RI KH Abdurrahman Wahid saat ini tidak lagi memiliki kekuatan hukum,” ujar Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) di hadapan keluarga Gus Dur di Gedung Nusantara V MPR, pada Minggu (29/9/2024).

Surat rekomendasi pemulihan nama Gus Dur diserahkan langsung oleh Ketua MPR RI Bambang Soesatyo bersama Wakil Ketua MPR dari Fraksi PKB, Jazilul Fawaid, kepada Sinta Nuriyah.

“Surat tersebut kami serahkan kepada keluarga Presiden Abdurrahman Wahid, Presiden Soeharto, dan Presiden terpilih Prabowo Subianto,” ujar Bamsoet.

Dalam acara tersebut, turut hadir Wakil Ketua MPR Ahmad Basarah, Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid, Wakil Ketua MPR Ahmad Muzani, serta perwakilan DPD, Fadel Muhammad.

Selain pimpinan MPR, acara Silaturahmi Kebangsaan Pimpinan MPR RI bersama Keluarga Gus Dur ini juga dihadiri oleh Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) periode 2003-2008 Jimly Asshiddiqie, mantan Menkopolhukam Mahfud MD, dan pengamat politik Rocky Gerung.

Gus Dur Bapak Kemanusiaan

Diberitakan, Gus Dur adalah seorang presiden dengan segudang pemikiran Islam yang sudah sangat terkenal mempengaruhi cara pandang bernegara di tanah air.

Gus Dur – Foto UIN Jakarta.

Mengutip laman resmi UIN Jakarta dengan sebuah tulisan berjudul Gus Dur: Bapak Kemanusiaan Indonesia oleh Ayang Utriza,  pemikiran Gus Dur itu adalah menjadikan Islam sebagai gerakan kebudayaan.

“Ia hendak mengejewantahkan nilai-nilai Islam dengan kearifan tempatan,” kata ayang.

Dia juga menegaskan, Gagasan pribumisasi Islam menjadi motor penggerak dinamisme pemikiran Gus Dur.

“Dengan semangat itu, ia ingin umat Islam dapat mengejawantahkan keimanan sesuai dengan roh zaman,” ungkap Ayang.

katanya, di tengah kemarau pemikiran Islam yang memihak orang-orang tertindas dan terpinggirkan, Gus Dur dengan bernas menampilkan Islam Praksis yang membumikan pemikiran dan gagasan besar Islam ke dalam aksi nyata di lapangan yang bernama Indonesia.

“Gus Dur adalah contoh par execellence bagaimana seorang pemikir Islam tidak hanya bermain di dunia ide, tetapi juga melakukan tindakan nyata dalam ranah kemasyarakatan dan politik. Wallahu a’lam,” imbuh di dia.

Sosok Aktivis dan Intelektual

Masih menurut Ayang Utriza, Gus Dur merupakan cendekiawan Muslim Indonesia yang berhasil mengawinkan antara intelektualisme dan aktivisme.


Gus Dur (kesatu dari kanan) bersama Ketua Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Munir Said Thalib (kedua dari kanan) dalam satu forum membahas tindak kekerasan di tanah air – Foto Istimewa.

Katanya, Gus Dur menulis, meneliti, memberi kuliah, dan berbicara di berbagai forum untuk membabarkan ide keislamannya yang progressif dan emansipatif.

“Tetapi, ia juga seorang kyai, ustadz, dan mubalig yang ceramah di kalangan akar rumput untuk menyampaikan gagasannya dengan bahasa sederhana dan mudah dimengerti,” tukas dia.

Baginya, sumbangan terbesar Gus Dur adalah telah mendorong ide demokratisasi dan mengembangkan wacana masyarakat sipil, demokrasi, dan HAM di kalangan nahdhiyyin, baik para kyai maupun umat NU.

“Ia berjuang menabur benih-benih pemikiran Islam yang moderat di NU yang pada awalnya mendapat kesulitan dan tantangan luar biasa, tetapi sekarang ia mengetam hasilnya,” tegas Ayang.

Menurut dia, di kalangan aktivis prodemokrasi, Gus Dur dihargai sebagai pejuang demokrasi dan pembela hak asasi manusia yang tak kenal lelah.

“Bahkan Orde Baru menganggap sebagai musuh nomor wahid, karena selalu mengganggu rasa nyaman rejim dengan kritik dan analisisnya yang dalam,” tutup dia.

Sosok Humoris

Selain itu, Gus mempunyai segudang cerita humor yang membuat banyak orang terpingkal-pingkal tapi mendapat kritikan pedas tapi tidak terasa.

Gus Dur tampak tertawa terbahak-bahak – Foto nujepara.

Berikut lampiran humor Gus Dur yang dikutip dari laman resmi nujepara.

Suatu hari, di bulan Ramadhan, Gus Dur bersama seorang kyai lain (Kiai Asrowi) pernah diundang ke kediaman mantan presiden Soeharto untuk buka bersama.

Setelah buka, kemudian Salat Maghrib berjamaah. Setelah minum kopi, teh dan makan, terjadilah dialog antara Soeharto dan Gus Dur.

Soeharto: “Gus Dur sampai malam di sini?”

Gus Dur: “Engga Pak! Saya harus segera pergi ke ‘tempat lain’.”

Soeharto: “Oh iya ya ya… silaken. Tapi kiainya ‘kan ditinggal di sini ya?”

Gus Dur: “Oh, iya Pak! Tapi harus ada penjelasan.”

Soeharto: “Penjelasan apa?”

Gus Dur: “Salat Tarawihnya nanti itu ‘ngikutin’ NU lama atau NU baru?”

Soeharto jadi bingung, baru kali ini dia mendengar ada NU lama dan NU baru. Kemudian dia bertanya.

Soeharto: “Lho NU lama dan NU baru apa bedanya?”

Gus Dur: ” Kalau NU baru lama, Tarawih dan Witirnya itu 23 rakaat.”

Soeharto: “Oh iya iya ya ya… ga apa-apa….”

Gus Dur sementara diam.

Soeharto: “Lha kalau NU baru?”

Gus Dur: “Diskon 60% !”

Hahahahahaha…. (Gus Dur, Soeharto, dan orang-orang yang mendengar dialog tersebut pun tertawa.)

Gus Dur: “Ya, jadi Salat Tarawih dan Witirnya cuma tinggal 11 rakaat.”

Soeharto: “Ya sudah, saya ikut NU baru aja, pinggang saya sakit.” (rzm)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com