Kemarin saya mengeluarkan statemen video berupa ucapan selamat datang dan Apresiasi kepada Paus Fransiskus atas kedatangannya di Indonesia yang sangat merakyat dan bersahaja.
Video berdurasi 2-menit 58-detik tersebut banyak mendapatkan tanggapan positif karena sekaligus menunjukkan juga sikap toleransi kita sebagai umat beragama menyambut kehadiran Pemimpin tahta suci Vatikan ini.
Sementara itu saat ini kalangan media sedikit terbingungkan dengan Surat dari Direktur Jenderal Bimbingan Islam dan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik dan Kementerian Agama Nomor: B-86/DJ.V/BA.03/09/2024 tanggal 1 September 2024.
Isi surat itu “Permohonan Penyiaran Azan Magrib dan Misa bersama Paus Fransiskus” yang meminta agar Siaran TV saat Acara LIVE Misa Paus Fransiskus di GBK besok pukul 17.00-19.00, Kamis 5 September 2024yang bertepatan dengan jadwal rutin penayangan azan magrib, diganti menjadi running text.
Penayangan azan magrib secara running text sudah beberapa kali diterapkan untuk event tertentu (misalnya saat siaran live pertandingan olahraga mancanegara atau kegiatan khusus lainnya).
Namun kali ini rupanya tidak sedikit kalangan yang mempertanyakan bagaimana sebaiknya hal tersebut besok bisa bijak dilakukan.
Terdapata peristiwa yang berlangsung bersamaan dan keduanya harus disiarkan tepat sesuai jadwal waktunya.
Meski belum jadi trending topic, namun bahasan tentang ini sudah ramai di SocMed, khususnya di platform X / Twitter.
Uniknya, saking sensitifnya topik ini sampai-sampai ada sebuah media mainstream nasional yang sempat memuatnya.
Link berita www.tvonenews.com/amp/berita/nasional/242684-kemenag-surati-kominfo-minta-azan-magrib-di-tv-diganti-tulisan-running-text-saat-misa-paus-fransiskus berganti tampilan “Error 404”.
Halaman tidak ditemukan sebagaimana sebuah berita yang ditarik kembali, meskipun masih terbaca thumbnailnya saat di googling.
Selain usulan running text tersebut ada juga masyarakat yang menyampaikan ide agar Misa Sri Paus bisa dihentikan sebentar sesaat ketika azan magrib tiba.
Namun hal ini tentu sulit untuk dilakukan mengingat waktu tiba azan magrib di tiap kota bisa berbeda-beda, misalnya antara Jakarta & Jogja saja terpaut sekitar 15 menit.
Contohnya besok Kamis (05/09/2024) azan magrib di Jakarta pukul 17.55 WIB sedangkan di Jogja sudah berlangsung pukul 17.40 WIB.
Kalau diterapkan untuk seluruh Indonesia maka “penghentian waktu” tersebut menjadi tidak bijak karena cukup lama rentang waktunya.
Sebenarnya ada usulan cerdas untuk memanfaatkan teknologi penyiaran yang bisa dilakukan.
Caranya dengan menggunakan sistem split-screen pada satu layar, di mana hal sejenis sudah sering dilakukan saat terdapat 2 atau lebih sumber video yang harus ditayangkan di saat yang bersamaan.
Jadi pemirsa tinggal mengarahkan fokus perhatiannya saja kepada tayangan yang ingin dilihatnya.
Namun khusus untuk suaranya besok bisa dipancarkan dengan sistem bilingual (2 suara) yang bisa dipilih juga keluaran audionya oleh pemirsa dengan menekan tombol “audio” pada remote TV atau Set-Top-Box Digitalnya dan memilih Split saluran “Left” atau “Right” sesuai gambarnya.
Meski siaran menjadi oonaural/mono, namun tentu kualitasnya tetap baik dan keluar dari speaker kanan-kiri.
Tayangan bilingual ini sebenarnya lazim diaplikasikan untuk tayangan-tayangan dwi bahasa yang meskipun satu video namun bahasa keluarannya bisa dipilih (biasanya bahasa sslinya inggris/asing dan Bahasa Indonesia).
Ini bukan teknologi baru mengingat zaman penyiaran analog-pun dulu sudah diaplikasikan pada sistem TV Zweiton (Zwei=dua, ton=suara) tahun 1990 dan NICAM (Near-Instantaneous Companded Audio Multiplex) sejak tahun 1991.
Namun seiring dengan migrasi siaran TV ke digital maka kedua sistem tersebut kini sudah tidak digunakan lagi.
Penerapan sistem “spilt window” dan “bilingual/split-monaural” sekedar usulan teknis saja untuk solusi saat penayangan Misa Paus Fransiskus yang bertepatan dengan waktu azan magrib.
Daripada hanya menayangkan secara running text saja.
Bagaimanapun azan adalah panggilan untuk sholat yang lazimnya disuarakan dan bukan hanya running text tanpa suara.
Bila belum dimungkinkan diaplikasikan setidaknya menjadi wacana referensi bilamana kelak akan dimanfaatkan untuk even yang lain.
Semoga!
Penulis: Roy Suryo, Pemerhati Telematika, Multimedia, AI & OCB Independen
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan