Beritabanten.com – Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ahmad Tholabi Kharlie, menyinggung isi buku berjudul Prinsip-Prinsip Negara Indonesia, Syarah Konstitusi karya Prof Ali Masykur Musa, dengan mengaitkannya pada kondisi mutakhir sosial-politik di tanah air.

Menurut Prof. Tholabi, buku karya mantan Ketua Umum PB PMII periode 1991–1994 itu mampu menjernihkan arah demokrasi Indonesia dengan mengajak semua pihak kembali mengingat posisi konstitusi dalam tata negara.

Dalam testimoni peluncuran buku di Pendopo Pondok Pesantren Pasulukan Al-Masykuriyah, Jakarta Timur, Jumat (12/9), Prof. Tholabi menilai Ali Masykur Musa menghadirkan karya penting di tengah turbulensi demokrasi Indonesia.

“Hari ini kita menghadapi menguatnya intoleransi, mengerasnya politik identitas, bahkan ancaman oligarki. Dalam konteks itu, karya Prof. Ali Masykur menjadi pengingat penting bahwa konstitusi harus kembali ditempatkan sebagai pedoman moral dan arah demokrasi kita,” ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (13/9/2025).

Alumnus Pesantren Darussalam Ciamis, Jawa Barat, itu menambahkan, keistimewaan buku ini terletak pada ketajaman analisis terhadap pasal-pasal UUD 1945 serta keberhasilannya menghidupkan konstitusi melalui pendekatan syarah.

“Kata syarah di sini sangat penting. Dalam tradisi Islam, syarah berarti penjelasan mendalam atas sebuah teks. Prof. Ali Masykur menempatkan UUD 1945 sebagai kitab bangsa yang perlu ditafsirkan dengan nurani, bukan sekadar dibaca pasal demi pasal,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, tradisi syarah telah lama menjadi acuan para cendekia pesantren dalam memahami kitab-kitab klasik karena memuat penjelasan detail, termasuk konteks kemunculan suatu pendapat.

Karena itu, menurutnya, buku ini mampu menghadirkan wajah konstitusi yang lebih humanis.

“Biasanya buku hukum tata negara disajikan kaku. Namun melalui pendekatan syarah, kita diajak menyelami makna konstitusi dengan perspektif moral, agama, dan kemanusiaan. Konstitusi seolah berbicara langsung kepada kita tentang kemerdekaan, keadilan, dan tanggung jawab bernegara,” tuturnya.

Lebih jauh, Prof. Tholabi menilai karya ini layak dijadikan bacaan wajib di perguruan tinggi, pesantren, dan lembaga pemerintahan.

“Buku ini meneguhkan Pembukaan UUD 1945 sebagai dokumen sakral bangsa, menekankan kedaulatan rakyat sebagai pemilik legitimasi sejati, dan mempertegas hukum harus berpihak pada keadilan. Ia bukan hanya referensi akademis, tetapi juga panduan moral dan refleksi historis,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa salah satu segmen pembaca buku ini adalah generasi muda, khususnya mahasiswa hukum, santri, dan aktivis, sebagai jembatan penting memahami konstitusi secara lebih hidup.

“Disajikan komunikatif, penuh penjelasan moral, dan jauh dari kekakuan. Buku ini bisa menjadi bahan ajar, materi diskusi, sekaligus pedoman etis dalam berpolitik,” tambahnya.

Tangkapan layar flayer lounching buku Ali Masykur Musa di YouTube @@ngajiqolbuofficial2899

Relevansi Kontitusi Indonesia dengan Ajaran Islam

Sementara itu, Ali Masykur Musa menegaskan bahwa konstitusi Indonesia sangat relevan dengan ajaran Islam.

Menurutnya, banyak nomenklatur dan konsep Islam yang terintegrasi dalam UUD 1945, mulai dari gagasan keadilan, musyawarah, hingga prinsip kemanusiaan yang adil dan beradab.

“Konstitusi bukan hanya aturan dasar, tetapi juga pedoman kebangsaan yang mencerminkan nilai moral dan spiritual. Kita dapat menemukan nilai-nilai Islami yang menyatu di dalamnya,” ujarnya.s

Ali Masykur Musa dikenal sebagai figur multidimensi: akademisi dengan jabatan profesor hukum tata negara sekaligus berpengalaman panjang di ranah politik dan kenegaraan.

Founder kanal YouTube @ngajiqolbuofficial2899 tersebut, pernah menjadi anggota DPR RI, memimpin Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), serta aktif di berbagai forum internasional.

Perpaduan antara penguasaan teks konstitusi yang mendalam dan pengalaman praktis di dunia politik menjadikan reputasinya sebagai ulama-cendekiawan sekaligus negarawan. Buku ini lahir dari refleksi panjang atas kiprah tersebut.

Dengan buku ini, Ali Masykur Musa mengajak pembaca menumbuhkan harapan besar agar demokrasi Indonesia semakin kokoh sebagai negara hukum yang adil dan beradab.

Buku Prinsip-Prinsip Negara Indonesia menjadi perayaan intelektual sekaligus momentum kebangsaan untuk kembali membaca konstitusi, bukan semata sebagai teks hukum, melainkan sebagai cermin moral bangsa. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com