Beritabanten.com – Tafsir Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang bagaimana memahami teks, tetapi juga bagaimana menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an untuk menjawab persoalan kehidupan yang terus berubah.
Gagasan tersebut menjadi salah satu pokok pemikiran Prof. Hasani Ahmad Said yang disampaikan dalam pengukuhan dirinya sebagai Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di Auditorium Harun Nasution, UIN Jakarta, 30 September 2026.
Dalam forum akademik tersebut, Tafsir Maqāṣidī ditawarkan bukan sekadar sebagai salah satu pendekatan dalam studi Al-Qur’an, melainkan sebagai perspektif yang memiliki ruang pengembangan luas bagi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), penelitian lintas disiplin, kehidupan sosial-keindonesiaan, perkembangan ilmu pengetahuan, hingga tantangan peradaban digital.
Ada lima tawaran besar Tafsir Maqāṣidī yang menjadi perhatian.
Pertama, Tafsir Maqāṣidī sebagai pengembangan metodologi tafsir. Pendekatan ini dapat memperkaya metodologi tafsir dengan tidak berhenti pada pemahaman literal terhadap ayat, tetapi juga berupaya menangkap tujuan, nilai, dan kemaslahatan yang hendak diwujudkan oleh Al-Qur’an.
Dengan demikian, tafsir memiliki ruang untuk terus berdialog dengan perubahan zaman tanpa kehilangan pijakan pada teks dan prinsip-prinsip dasar Al-Qur’an.
Kedua, Tafsir Maqāṣidī sebagai paradigma riset interdisipliner. Persoalan manusia semakin kompleks dan tidak selalu dapat dijawab melalui satu disiplin ilmu. Karena itu, Tafsir Maqāṣidī memiliki peluang mempertemukan studi Al-Qur’an dengan sosial-humaniora, sains, teknologi, ekonomi, kesehatan, pendidikan, hingga lingkungan.
Pendekatan tersebut membuka ruang bagi penelitian yang lebih kontekstual dan kolaboratif, sekaligus memungkinkan persoalan manusia dibaca secara lebih utuh.
Ketiga, Tafsir Maqāṣidī sebagai respons terhadap problem sosial-keindonesiaan. Indonesia memiliki keragaman agama, budaya, suku, tradisi, serta persoalan sosial yang khas. Dalam konteks tersebut, Tafsir Maqāṣidī dapat digunakan untuk menggali nilai-nilai Al-Qur’an yang relevan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.
Persoalan keadilan sosial, toleransi, kemanusiaan, lingkungan, pendidikan, kemiskinan, dan kehidupan kebangsaan dapat dibaca melalui perspektif tujuan serta kemaslahatan yang terkandung dalam ajaran Al-Qur’an.
Dengan cara itu, tafsir tidak hanya berhenti di ruang akademik, tetapi juga dapat memberi kontribusi terhadap kehidupan masyarakat.
Keempat, Tafsir Maqāṣidī sebagai penghubung studi Islam dan ilmu pengetahuan modern. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi melahirkan pertanyaan-pertanyaan baru yang membutuhkan dialog antara agama dan ilmu pengetahuan.
Tafsir Maqāṣidī dapat menjadi salah satu jembatan untuk mempertemukan khazanah keislaman dengan perkembangan ilmu modern. Yang dicari bukan semata-mata kesesuaian antara ayat dan temuan ilmiah, melainkan bagaimana nilai serta tujuan Al-Qur’an dapat menjadi sumber inspirasi etis dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pemanfaatan teknologi.
Kelima, Tafsir Maqāṣidī sebagai basis etika bagi peradaban digital dan masa depan kemanusiaan. Perubahan teknologi digital dan perkembangan kecerdasan buatan menghadirkan peluang sekaligus tantangan baru.
Persoalan privasi, keadilan, keamanan, informasi, relasi sosial, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan membutuhkan landasan etika yang kuat. Dalam konteks tersebut, Tafsir Maqāṣidī dapat menawarkan kerangka nilai untuk memastikan perkembangan teknologi tetap diarahkan pada kemaslahatan, keadilan, martabat manusia, dan keberlanjutan kehidupan.
Lima tawaran tersebut menunjukkan luasnya ruang pengembangan Tafsir Maqāṣidī di lingkungan PTKI. Pendekatan ini tidak hanya dapat ditempatkan sebagai kajian dalam ilmu tafsir, tetapi juga berpotensi menjadi jembatan antara teks dan konteks, tradisi keilmuan Islam dan ilmu modern, serta nilai-nilai Al-Qur’an dengan tantangan kehidupan masa kini dan masa depan.
Melalui pengembangan Tafsir Maqāṣidī, PTKI diharapkan dapat semakin berperan dalam membangun tradisi akademik yang responsif terhadap perubahan zaman, sekaligus tetap berakar pada nilai-nilai Al-Qur’an dan kemaslahatan manusia. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan