Peringatan Hari Pahlawan Nasional 2024 adalah menempatkan negara ini berdaulat karena sumbangsih darah pahlawan yang mengalir begitu deras mendobrak dan menyingkirkan kolonialisme penjajah dan kebodohan.
Kemerdekaan tidak begitu saja datang sebagai pemberian hadiah dari para pecundang yang rakus akan penguasaan wilayah dan kekayaan alam Indonesia namun atas perjuangan seluruh anak bangsa agar Indonesia merdeka
Saat ini dan esok serta hari-hari selanjutnya semangat patriotisme masih sangat dibutuhkan dalam mewujudkan cita-cita bangsa ini, sebagai bukti kepahlawanan sejati dan bukan sebaliknya sebagai pahlawan kesiangan.
Pejuang adalah mereka yang saat ini tidak lagi berjuang melawan penjajah melainkan bagi mereka yang berjuang melawan kemiskinan ekonomi dan kebodohan.
Pahlawan saat ini tidak hanya mengangkat senjata menjaga NKRI, melainkan bagaimana bangsa ini menjadi negara yang makmur merata serta terlepas dari kemiskinan, juga dapat dikatakan pahlawan.
Dibutuhkan mindset baru dalam menjawab tantangan bangsa ini lepas dari kemiskinan, mulai membahas akar sumber penyebab kemiskinan sampai kepada bagaimana memberikan konsep penyelesaiannya baik di masa sekarang maupun di masa akan datang.
Kemiskinan tidak bisa hilang 100%, namun memperkecil jumlah angka kemiskinan hingga pada angka terendah sudah menjadi tanggungjawab kita bersama.
Karena dalam pandangan Islam bahwa kemiskinan ekonomi di dunia ini takkan pernah pupus hingga akhir zaman dan hal ini merupakan sunnatullah
Adanya kemiskinan mewarnai roda kehidupan berputar sebagai cobaan bagi yang menerimanya dan bagi yang mampu atau berkelebihan dapat dijadikan ladang amal sholeh.
Pahlawan sejati menurut hadist Nabi, perjuangan orang berpotensi harta dan ketahanan raga yang harus menolong pihak di bawahnya.
“Jika salah seorang dari kalian melihat orang yang lebih unggul dalam harta dan tubuh maka hendaknya ia melihat kepada orang yang di bawahnya, yakni orang yang ia ungguli. (HR Bukhari dan Muslim)”
Kaya miskin, siang malam, laki-laki perempuan, semua itu Allah ciptakan dalam rangka untuk saling mengisi atau membantu dan bukan sebaliknya saling mendzolimi, sebagaimana Allah SWT berfirman di bawah ini.
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa,” QS [al-Baqarah/2:177]
Menjadi pahlawan kebaikan tidaklah sulit manakala kita peduli dengan sekeliling kita sehari-hari.
Terkadang kita menyepelekan hal-hal kecil untuk berbuat baik sehingga terlewatkan begitu saja kesempatan berbuat baik yang semestinya begitu mudah untuk kita dapatkan, seperti memberi minum hewan yang sedang kehausan atau menyeberangkan jalan orang yang sedang kesulitan menyeberang atau sekedar memberikan nasi bungkus untuk diberikan kepada siapa saja yang kita temui dan sedang dalam kondisi membutuhkan
Inilah esensi pahlawan saat ini yakni, memberikan pertolongan di saat orang lain sedang membutuhkannya.
Melaksanakan perintah berbuat baik terlebih membantu orang miskin dalam setiap kesempatan sudah seharusnya menjadi gaya hidup pahlawan kekinian karena mereka sadar bahwa segala perintah yang datangnya dari Allah pastilah ada faedah bagi orang yang melaksanakannya.
Di satu sisi dalam konteks membantu masyarakat lebih luas dan masif sehingga penerima manfaat bantuan lebih luas cakupannya maka memberikan bantuan dalam jumlah besar sudah pasti masih sangat dibutuhkan,
Pahlawan kebajikan pada tingkat makro yakni bagiamana perusahaan perusahaan ikut bertanggung jawab terhadap kesejahteraan sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekelilingnya (Corporate Social Responsibility).
Keterlibatan mereka dalam bidang kemanusiaan bukan lagi hanya sebagai sekedar himbauan atau slogan semata melainkan harus sudah menjadi kewajiban yang harus dijalankan oleh perusahaan-perusahaan, dengan kata lain mencari kekayaan di Indonesia maka sebagai timbal balik dan cinta Indonesia semestinya kelebihan kekayaan yang ia peroleh semestinya juga didistribusikan untuk rakyat Indonesia.
Membayar pajak sudah menjadi kewajiban kepada negara namun membantu masyarakat sekelilingnya atas nama kemanusiaan itu adalah bukti cinta akan tanah air dan isinya yakni masyarakat yang menghuninya.
Saat ini dibutuhkan metode yang lebih komprehensif dan terintegrasi dengan semua aspek kehidupan ekonomi dan sosial serta kehidupan religi orang miskin dalam membantu orang miskin lepas dari keterpurukan
Maka pengembangan metode membantu ekonomi orang miskin yang tepat adalah usaha yang mengarah pada bantuan berkelanjutan dengan memberikan pemahaman mindset mandiri serta mendorong motivasi agar mereka bisa berusaha paska diberikan bantuan sehingga target program pengentasan kemiskinan yakni mengurangi jumlah orang miskin pada suatu daerah dapat terwujud.
Saat ini, semangat pahlawan seperti inilah yang harus ditularkan kepada semua orang sehingga akan memunculkan pahlawan-pahlawan baru yang kekinian.
Dengan demikian Indonesia kedepannya menjadi lebih baik, makmur adil merata.
Selamat hari pahlawan semoga dari cukilan di atas dapat memberikan manfaat buat penulis khususnya dan para penggiat, pemerhati philantrophy pada umumnya, Aamiin YRA. (Red)
Penulis Deni Nuryadin, Pimpinan BAZNAS Tangsel
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan