Beritabanten.com – Peran tokoh agama sangat penting dalam pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024 sebagai proses demokrasi yang harus berjalan damai.

Ketegangan, baik di dunia nyata maupun di media sosial sesungguhnya dapat diminimalisir dengan kesadaran bahwa perbedaan itu biasa, dan jangan sampai perbedaan merusak silaturahmi.

Harapan para tokoh agama dalam Pilkada 2024 , setidaknya dapat dijelaskan dari Deklarasi MUI Tangsel dan Tokoh Agama Kota Tangerang Selatan, di sela-sela Seminar Harmonisasi Beragama dan Pembinaan Lembaga Keagamaan, Rabu (02/10/2024) di Gedung Kelembagaan Kota Tangerang, Pamulang.

MUI Tangsel sebagai host kegiatan tersebut mengeluarkan beberapa butir deklarasi yang dibacakan oleh Sekretaris Umum MUI Tangsel, KH. Abdul Rojak, yaitu:

  1. Mengajak Pengurus MUI dan Ormas Islam di semua Tingkatan harus berpartisipasi aktif dalam Pilkada Tangangerang Selatan 2024 yang damai, demokratis, adil dan jujur.
  2. Menghimbau Pengurus MUI di semua tingkatan dilarang menggunakan atribut MUI atau bentuk lain yang dimaknai berkaitan dengan organisasi MUI dalam kegiatan kampanye selama pernyelenggaraan Pilkada 2024.
  3. Mengharapkan Pengurus MUI dan Ormas Islam di semua tingkatan aktif memberikan pencerahan dan edukasi tentang politik keummatan dan kebangsaan dengan tetap menjaga independensi dan perpedoman pada Keputusan dan fatwa MUI serta Keputusan Ormas Islam terkait.
  4. Menghimbau kepada seluruh Ulama. Tokoh Ormas dan Tokoh Lintas Agama untuk dapat memberikan kesejukan bagi Masyarakat dalam hiruk pikuk penyelenggaraan Pilkada Tangerang Selatan 2024.
  5. Mengajak seluruh komponan Masyarakat Kota Tangerang Selatan untuk menjadikan Pilkada 2024 sebagai pesta demokrasi yang menjunjung tinggi perbedaan pilihan, namun tetap menjaga persaudaraan dan persatuan.
  6. Mengajak semua pemangku kepentingan, Paslon, Timses, Parpol dan Elite Politik untuk bersikap sportif dan taat azas dalam berkampanye dengan tidak menjadikan agama sebagai konten kampanye dan SARA.

Seruan moral tersebut rasanya penting untuk diaplikasikan, walaupun ada yang bilang itu bukan hal mudah di tengah berbagai hasrat kuasa yang sangat mungkin melegalkan atau menerabas segala cara.

“Beda pilihan itu biasa. Sebaliknya, perbedaan haruslah dilihat sebagai kekuatan untuk bersinergi. Ibaratnya, kita akan dapat banyak insights jika bertemu orang yang berbeda,” ujar Abdul Rojak.

Menurutnya, sebagai perantara kebudayaan, tokoh agama adalah patron masyarakat untuk memilih mana yang terbaik. Walaupun tiap tokoh tidak sama pilihannya, akan tetapi secara publik mereka tetap perlu menyerukan secara bijaksana terkait pentingnya kebesaran hati menerima siapapun yang terpilih dari para paslon.

“Kita berharap Pemilukada nanti berjalan dengan lancar, paling tidak seperti harapan ormas Islam dan majelis-majelis agama untuk menciptakan Pemilukada yang damai, jujur, adil, dan bermartabat. Jika capaian itu agak sulit seratus persen, setidaknya paling kurangnya harus diperjuangkan agar bisa mencapai idealitas tersebut,” pungkasnya.

Turut hadir Penjabat Sementara (Pjs) Wali Kota Tangsel, Tabrani, Ketua Umum MUI Tangsel, KH. Saidih, Sekretaris Umum MUI Tangsel, KH. Abdul Rojak, Ketua I MUI Tangsl KH Hasan Mustofi Ketua Komisi, H. Sanusi, Asda 1 Bidang Pemerintah, Chaerudin, Staf Ahli Pemkot Tangsel, Heli Slamet, Sekcam Pamulang, Munadih, dan peserta seminar. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com