Penggunaan Sistem Informasi Rekapitulasi Pemilu (SIREKAP) pada Pemilu 2024 dikenal sangat buruk dan memalukan sepanjang sejarah bangsa ini menggunakan teknologi.
Saking buruknya sampai-sampai APDI (Aliansi Penegak Demokrasi Indonesia) sepakat bahwa Sirekap bukan hanya sebagai Alat Kecurangan Pemilu tapi sudah berfungsi Alat Kejahatan Pemilu.
Secara detail telaah teknis dan komprehensif tentang Sirekap tersebut telah diwujudkan dalam Film berjudul “Dirty Election” yang sudah di-release sejak 20/4/2024 lalu dan diperankan oleh Leony Lidya, Erick S Paat, Petrus Selestinus, Paulet Stanly Jemmy Mokolensang, Hairul Anas Suaidi, Akhmad Syarbini, Akhmad Akhyar Muttaqin, Kaka Suminta dan saya sendiri.
Film yang bisa disaksikan melalui kanal YouTube ini memiliki opsi untuk bisa ditonton secara utuh, maupun per-topik bilamana diperlukan untuk lebih menyesuaikan selera penonton.
Digarap dengan Teknik Sinematografi standar Broadcast dan Filmologi yang digarap Serius, film yang di-shooting di kawasan asri di sebelah selatan Jakarta ini coba memberi edukasi secara cerdas sekaligus bernas.
Namun tentu tidak cukup dengan Film, untuk tetap membuat masyarakat Indonesia tetap terus tercerahkan dan teredukasi di tengah upaya-upaya pembodohan negeri ini (misalnya dengan adanya statemen “kuliah/perguruan tinggi adalah kebutuhan tersier” yang sangat picik kemarin, apalagi disampaikan oleh seorang Profesor di Kemendikbud-Risti), maka digelar juga Diskusi Publik di berbagai tempat yang mengiringi acara NoBar (Nonton Bareng) Dirty Election ini.
Jadi, publik diharapkan bisa juga memberikan pandangan, masukan sekaligus saran dan kritik tidak hanya terhadap isi Film Dirty Election yang diputar, namun juga terhadap Pelaksanaan Demokrasi di negara yang sekarang sedang disebut-sebut berada dalam titik nadir di Rezim ini.
NoBar dan Diskusi pertama telah sukses diselenggarakan di Heyoo Cafe seputaran Tendean Jakarta pada Senin, 20/5/2024, kemarin yang bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional.
Sedangkan NoBar dan Diskusi kedua akan diselenggarkan hari Kamis ini, 30/5/2024 dan kali ini mulai masuk Kampus, ibaratnya untuk “menusuk” jantung pendidikan, kawasan candradimuka Civitas Akademika tempat para cendekia menuntut ilmunya.
Dalam Penyelenggaraan yang kedua ini, APDI berkolaborasi dengan BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Kema UNPAD dan PSKN FH UNPAD.
Acara diselenggarakan mulai pukul 10.00 WiB bertempat di Bale Rumawat, Kampus UNPAD Dipatiukur, Bandung.
Diskusi yang bertajuk “Membongkar Aktor Intelektual Pilpres 2024” akan menampilkan pembicara kompeten dalam bidangnya masing-masing: Prof. Susi Dwi Harijanti, SH, LLM, PhD (PSKN FH UNPAD), Petrus Selestinus, SH (TPDI, Perekat Nusantara), Dr. Ir. Leony Lidya (Pakar IT, UNPAS-Universitas Pasundan), Ted Hilbert (Yayasan YAKIN), Ridho Anwari Aripin (BEM Kema UNPAD) dan Dr. KRMT Roy Suryo alias saya sendiri (Pemerhati Telematika & Multimedia). Dimoderatori oleh Akhmad Akhyar, ST dan akan dibuka oleh Ir. Akhmad Syarbini (APDI),
Diskusi ini akan dibawakan oleh MC Adara. Informasi detail acara ini bisa dibaca juga dalam berbagai platform sosmed, misalnya di X/Twitter @DirtyElection dan IG @dirtyelection.
Banyak pertanyaan untuk diskusi yang kemarin terlontar, salah satunya adalah (katanya) Pemilu sudah selesai tetapi kok masih terus berdiskusi? Ya, memang.
Pemilu 2024 secara teknis mungkin bisa disebut “sudah selesai”, tapi sebenarnya secara etis sangat jauh dari kata “selesai” itu.
Karena sebenarnya kami percaya bahwa – meski sekarang sementara “dikalahkan” (oleh kecurangan dan kejahatan) – namun Kebenaran Pasti Menang.
Meski tidak berkorelasi langsung secara institusi, semangat ini mirip dengan Slogan yang kemarin digunakan dalam Rakernas PDI-P “Satyameva Jayate” yang berasal dari bahasa Sanskerta “satyam-eva jayate” yang artinya “Hanya Kebenaran yang Berjaya”.
Kalimat ini adalah sebuah mantra dari naskah Hindu kuno Mundaka Upanishad dan diadopsi sebagai semboyan nasional di India.
Secara lengkap lafalnya adalah sebagai berikut: “Satyameva jayate nānṛtaṁ, Satyena panthā vitato devayānaḥ, Yenākramantyṛṣayo hyāptakāmā, Yatra tat satyasya paramaṁ nidhānam”.
Artinya secara lengkap: “Hanya kebenaran yang berjaya, bukan kepalsuan. Melalui jalan kebenaran Ilahi. Orang bijak yang benar-benar keinginannya terpenuhi. Yang bisa mencapai harta tertinggi di mana kebenaran berada”.
Memang filosofinya sangat dalam dan terasa sangat tepat diaplikasikan di tengah-tengah berbagai kecurangan dan kejahatan dalam Pemilu 2024 yang diselenggarakan KPU (dengan sangat buruk), menurut catatan dalam Rakernasnya kemarin.
Kesimpulannya, sekali lagi APDi bukan merupakan afiliasi apalagi underbow dari salah satu Partai manapun, karena kami semua tetap Independen dan menjunjung tinggi hati nurani.
Namun apabila mungkin ada kesamaan pandangan dan filosofi yang disebut di atas, hal tersebut bisa terjadi karena kami semua sedang menolak segala bentuk kecurangan dan kejahatan yang sedang terjadi di negeri yang dilakukan oleh Rezim ini yang penuh Korupsi, Kolusi dan Anti Demokrasi.
Film “Dirty Election” adalah Fakta, bukan Fiksi apalagi Ilusi dan ada Halusinasi sebagaimana sebagian adegan dalam Film lain “Vina Sebelum 7 Hari”.
Kita semua tetap harus mengedepankan kewarasan demi menjaga Indonesia tetap mapan di masa depan.
Penulis KRMT Roy Suryo, Anggota APDI, Pemerhati Telematika, Multimedia, AI dan OCB Independen
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan