Beritabanten.com – Mengingat legenda para tokoh di tanah air sangat menarik karena ada pesan moral dan intelektual yang masih dipertahankan sampai sekarang.
Hal tersebut dibuktikan bahwa jalinan cerita tersebut yang bertahan dengan disampaikan secara lisan secara turun temurun sebagai cara merawat ingatan akan perjuangannya.
Ambil contoh pertarungan antara Sunan Kalijaga dan Prabu Siliwangi yang berlangsung berhari-hari.
Mengutip cerita yang masih bertahan dalam budaya tutur tanah parahiangan, Eyang Sunan Kalijaga dan Prabu Siliwangi pernah keduanya beradu tanding, hingga berhari-hari.
Kejadian tersebut disebabkan oleh kesaktian Prabu Siliwangi vs Sunan Kalijaga memang berbeda.
Katanya, Prabu Siliwangi memiliki khodam dan prajurit macan putih sebagai pendampingnya.
Selain Sunan Kalijaga vs Prabu Siliwangi, kesaktian para ksatria Cirebon utusan Sunan Gunung Jati juga turut diuji dalam pertempuran itu.
Rupanya, pertempuran Sunan Kalijaga vs Prabu Siliwangi tidak seimbang, lantaran kesaktian salah satu Wali Songo tersebut ternyata bukan tandingannya.
Sedangkan Sunan Gunung Jati, tidak turun langsung dalam pertempuran melawan kakeknya tersebut. Meski dia mengemban misi mengislamkan Prabu Siliwangi.
Sebenarnya Sunan Gunung Jati ingin secara baik-baik mengajak Prabu Siliwangi agar masuk Islam. Namun, ternyata hal tersebut tidak bisa berjalan mulus.
Hingga akhirnya Sunan Gunung Jati mengutus Sunan Kalijaga bersama sejumlah rombongannya. Namun, Prabu Siliwangi ternyata tidak mudah ditaklukan.
Selain sakti mandraguna, juga memiliki kemampuan strategi perang yang amat baik. Sehingga benar-benar tidak mudah ditaklukan.
Waktu itu, Sunan Gunung Jati diriwayatkan mengirimkan Sunan Kalijaga, Pangeran Arya Kemuning, Nyi Mas Gandasari untuk mendatangi Prabu Siliwangi.
Pertempuran dan adu kesaktian Sunan Kalijaga vs Prabu Siliwangi tidak terelakan. Namun, rombongan dari Kesultanan Cirebon tersebut berhasil dipukul mundur.
Dengan karomah yang dimiliki, Sunan Gunung Jati akhirnya mendapatkan petunjuk bagaimana menaklukan dan mengalahkan Prabu Siliwangi.
Kabarnya menggunakan tombak yang dipinjam Nyi Roro Kidul dan hasil dari hidayah yang diterima oleh Sunan Kalijaga tersebut memang membawa sebuah keajaiban bagi Sunan Kalijaga khususnya.
Kemudian bisa menang melawan Prabu Siliwangi yang banyak orang tahu memang sangat sulit dikalahkan karena Prabu Siliwangi pandai dalam menyusun strategi untuk mengalahkan musuhnya dengan mudah.
Dari kisah tersebut tersimpan pesan berusaha keras dalam membuka kelemahan lawan tanding dalam pertarungan.
Setiap pertandingan ada strategi tepat dan terencana dengan bekal mencermati dari setiap langkah yang dilakukan lawan untuk melahirkan serangan balik yang mematikan. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


1 Komentar
Fitnah yang akan di pertanggung jawabkan di akhirat Prabu Siliwangi (Jayadewata pamanahrasa) adalah muslim. Dan sunan gunung jati adalah cucunya. Wali macam apa yang berperang dan menumpahkan darah kakeknya sendiri? Saya rasa Banten harus lebih banyak intropeksi dan menggali sejarah dengan akal yang sehat, bukan doktrin.
Bukankah berkali-kali Banten menyerang leluhurnya sendiri demi kekuasaan yang di balut ambisi puitis “menyebarkan agama Islam” namun pada faktanya ingin menguasai secara mutlak Pajajaran. Sehingga batu pelantikan Siliwangi di ambil ke kesultanan Banten.
Bahkan hingga sekarang di masa modern saja, Banten memisahkan diri dengan tatar Sunda. Lagi-lagi karena ambisi. Dan itu pertanda Banten memang memiliki Riwayat tipikal orang yang tidak dapat di percaya dan tidak dapat SABILULUNGAN. Begitupun dengan sejarah diatas.