Beritabanten.com — Suasana Ruang Teater Mahmud Yunus lantai 3 Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tampak semarak.
Ratusan peserta yang terdiri dari dosen, mahasiswa, hingga praktisi pendidikan dari berbagai daerah berkumpul, baik secara luring maupun daring, dalam Seminar Nasional yang digelar untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional 2026.
Mengusung tema *“Peran Strategis Pendidikan 5.0 dalam Mencetak Guru Adaptif”*, kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus diskusi tentang masa depan pendidikan di tengah derasnya arus transformasi teknologi.
Dekan FITK, Siti Nurul Azkiyah, dalam sambutannya menekankan bahwa Pendidikan 5.0 bukan sekadar kelanjutan dari era sebelumnya, melainkan sebuah pendekatan yang menempatkan manusia sebagai pusat dari seluruh proses pembelajaran.
“Teknologi harus hadir untuk melayani kemanusiaan. Pendidikan tidak boleh kehilangan nilai, etika, dan orientasi keberlanjutan,” ujarnya dengan tegas.
Ia juga mengajak seluruh peserta untuk melihat kembali peran strategis lembaga pendidikan dalam membentuk generasi pendidik masa depan. Menurutnya, guru tidak cukup hanya unggul secara akademik, tetapi juga harus adaptif, kreatif, serta memiliki karakter kuat.
“Guru masa depan adalah mereka yang mampu menjembatani teknologi dengan nilai-nilai kemanusiaan, serta berpikir kritis dalam menghadapi perubahan,” tambahnya.
Seminar ini semakin menarik dengan kehadiran Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Jakarta, Ahmad Tholabi Khalie, sebagai keynote speaker. Dalam paparannya, ia mengangkat isu krusial terkait tantangan dan peluang kecerdasan artifisial (AI) dalam dunia pendidikan.
Menurutnya, perkembangan AI adalah realitas yang tidak bisa dihindari. Alih-alih ditakuti, teknologi ini justru perlu dikelola secara bijak oleh para pendidik.
“Jika guru tidak beradaptasi, mereka akan tertinggal. Namun jika dimanfaatkan dengan tepat, AI dapat menjadi mitra strategis dalam meningkatkan kualitas pembelajaran,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pergeseran peran guru di era digital. Guru kini tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan bertransformasi menjadi fasilitator, pembimbing, sekaligus kurator informasi.
“AI bisa menjawab ‘apa’ dan ‘bagaimana’. Tapi guru memiliki peran penting dalam menjelaskan ‘mengapa’ dan ‘untuk apa’,” tegasnya.
Lebih jauh, Ahmad Tholabi mengingatkan bahwa tantangan terbesar di era informasi bukanlah kekurangan data, melainkan kemampuan untuk memilah kebenaran. Oleh karena itu, literasi digital dan etika penggunaan teknologi menjadi kompetensi utama yang harus dimiliki oleh guru maupun peserta didik.
Selain keynote session, seminar ini juga menghadirkan sejumlah akademisi dan praktisi pendidikan yang membahas berbagai isu strategis, mulai dari pendidikan dasar, integrasi nilai keagamaan, hingga inovasi pembelajaran berbasis teknologi.
Melalui kegiatan ini, FITK UIN Jakarta menegaskan komitmennya dalam mendorong transformasi pendidikan yang adaptif, humanis, dan berkelanjutan. Seminar ini tidak hanya menjadi ajang diskusi, tetapi juga langkah nyata dalam memperkuat peran pendidikan dalam menghadapi tantangan era Society 5.0. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan