Beritabanten com – Peringatan Isra Miraj setiap tanggal 27 Rajab tidak hanya menjadi momen religius, tetapi juga dikenal sebagai Hari Palestina oleh warga Nahdlatul Ulama (NU).
Namun, makna perjuangan yang ditetapkan oleh NU tersebut seiring waktu, makna ini mulai terlupakan oleh banyak pihak.
Penetapan 27 Rajab sebagai Hari Palestina dilakukan pada Muktamar NU ke-14 di Magelang pada tahun 1939, yang dipimpin oleh KH. Hasyim Asy’ari.
Hal ini disampaikan oleh Ilham Zidal Haq melalui akun X-nya, @ilhamzihaq. Ia menulis bahwa keputusan tersebut diambil sebagai bentuk solidaritas terhadap umat Muslim Palestina yang tengah menghadapi kesulitan.
“Saat pembukaan Muktamar NU ke-14 di Magelang, KH. Hasyim Asy’ari menetapkan Isra Miraj sebagai Hari Palestina. Sayangnya, hal ini mulai terlupakan oleh sebagian Nahdliyin,” ungkap Ilham, dikutip pada Senin (27/1/25).
Abdullah Alawi dari NU Online juga mengutip koran Sunda “Sipatahoenan,” yang mendokumentasikan hasil Muktamar tersebut. Salah satu keputusan pentingnya adalah mewajibkan seluruh cabang NU untuk mengumpulkan iuran setiap bulan guna membantu masyarakat Palestina.
Kutipan dari koran tersebut menyatakan: “Perkumpulan Nahdlatul Ulama memutuskan mulai Juli 1939, seluruh cabang wajib iuran untuk membantu kaum Muslim Palestina yang sedang menghadapi kesulitan besar.”
Keputusan ini menunjukkan bagaimana NU sejak awal telah menunjukkan kepedulian terhadap perjuangan Palestina. Namun, semangat ini kini dirasa semakin memudar di tengah peringatan Isra Miraj.
Momentum Isra Miraj ini diharapkan dapat menjadi pengingat kembali atas warisan KH. Hasyim Asy’ari dan komitmen NU terhadap Palestina, sebagaimana dicetuskan dalam Muktamar 1939 tersebut. (Nul)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan