Beritabanten.com – Hujan baru reda, meninggalkan genangan yang memantulkan langit kelabu. Bau bensin dan tanah basah bercampur di udara. Jalanan licin, tapi langkah seorang pria paruh baya tetap mantap. Ia menenteng gitar tua dengan sarung tangan tipis, kakinya menapak pelan di aspal yang basah. Warga menoleh, “Oh, Bang Cepot sudah datang,” bisik salah seorang ibu, sambil menarik napas lega melihat sosok yang tak pernah absen dari SPBU ini.

Bang Cepot, nama yang sederhana tapi berat maknanya, bukan hanya pengamen biasa. Di balik senyum yang selalu ia pakai, ada perjuangan seorang ayah yang menahan lapar demi masa depan anak-anaknya. Hari ini, seperti setiap hari, ia bangun sebelum subuh, menyiapkan bekal sederhana: roti, air putih, dan secangkir kopi pahit. Di rumah kecilnya yang menempel di ujung gang, anak-anaknya masih terlelap. Ia menatap mereka sebentar, menyesap udara pagi, lalu berbisik, “Besok kita bisa makan, Nak. Bapak akan usahakan.”

Gitar tua itu ia bawa keluar, setiap goresan cat terkelupas dan senar yang sudah lusuh adalah saksi sejarah perjuangannya. Setiap pagi, ia menata kotak musik, memeriksa senar satu per satu, memastikan semuanya siap. Tidak ada yang instan dalam hidup Bang Cepot. Setiap nada yang keluar dari gitar adalah doa, bukan sekadar hiburan.

Pukul tujuh, SPBU mulai ramai. Suara knalpot, klakson, dan mesin dispenser bersahutan. Bang Cepot duduk di pojok, membuka kotak musiknya. “Selamat pagi, Pak! Mau dengar lagu sambil tunggu bensin?” sapanya pada pelanggan pertama. Pria itu tersenyum, melempar koin ke kotak, lalu mengangguk. Beberapa menit itu cukup untuk membuat Bang Cepot merasa diterima.

Sepanjang pagi, ia memainkan lagu demi lagu, mengatur nada agar sesuai dengan suasana SPBU. Seorang ibu muda menyelipkan uang ekstra di kotak musiknya. “Ini buat anak-anakmu,” katanya. Mata Bang Cepot berkaca-kaca, tangan gemetar saat menerima receh yang terasa lebih berharga daripada emas. Sementara seorang pelajar SMA menatapnya, tersenyum malu-malu, dan berkata, “Pak, lagunya enak banget.” Sesuatu dalam senyum itu membuat hari Bang Cepot lebih ringan.

Hujan kecil mulai turun lagi, tapi ia tetap bermain. “Kadang sepi, pulang cuma bawa beberapa ribu. Tapi lihat anak-anak bisa sekolah, mereka makan… aku senyum lagi. Itu cukup,” ucapnya, suara serak tapi tulus. Setiap tetes hujan yang jatuh di kepala seperti mengingatkan dia: hidup keras, tapi harapan tetap bisa tumbuh.

Salah satu momen paling berkesan baginya adalah interaksi dengan pelanggan. Seorang pria tua selalu membeli bensin, bercerita tentang istrinya yang sudah meninggal. Bang Cepot mendengarkan, memetik gitar dengan lembut, menyelipkan lirik-lirik sederhana yang membuat pria tua itu tersenyum sekejap. Ada juga pengendara motor yang berhenti sebentar, menatapnya sambil mengangguk, atau ibu muda yang tersenyum dan berkata, “Lagunya bikin hati adem, Pak.” Apresiasi sekecil itu cukup untuk membuat Bang Cepot merasa perjuangannya dihargai.

Siang menjelang sore, pelanggan mulai berkurang. Bang Cepot duduk di pinggir SPBU, menyeka keringat, menatap kendaraan yang lalu-lalang. Ia memetik gitar terakhir hari ini, nada-nada sederhana mengalun di antara suara kendaraan yang tersisa. Ia membayangkan setiap senyum, anggukan, atau kata sederhana dari pengendara tadi—itulah “hadiah” bagi setiap lagu yang ia mainkan.

Malam datang, lampu SPBU padam. Kota mulai tenang, tapi Bang Cepot tetap terjaga sesaat, menatap gitar yang kini diam di pojok rumah. Ia berpikir tentang hari ini: hujan, panas, lelah, tapi juga tawa, senyum, dan penghargaan dari orang-orang yang ia temui sebentar saja. “Setiap lagu yang kubawakan,” katanya pelan, “adalah doa. Bukan hanya untuk anak-anakku, tapi juga untuk semua orang yang mendengar.”

Bang Cepot menutup mata, menghela napas panjang, membiarkan tubuh lelah tapi hati penuh syukur. Di tangan Bang Cepot, mengamen bukan sekadar pekerjaan. Itu adalah **perjuangan, doa, dan cinta seorang ayah**. Di tengah SPBU yang ramai, di antara knalpot dan dispenser bensin, nada-nadanya tetap mengalir—memberi harapan, menyentuh hati, dan meninggalkan senyum. Hidup memang keras, tapi di balik setiap senar gitar, ada cerita tentang keberanian, pengorbanan, dan penghargaan yang tak pernah padam.

Dan saat malam menutup kota Tangsel, Bang Cepot menatap langit gelap, tersenyum, dan berbisik: “Besok kita mulai lagi. Untuk anak-anak, untuk harapan, untuk hidup yang layak.” Musiknya mungkin hanya terdengar sebentar di telinga orang, tapi bagi yang mau mendengarkan, itu adalah doa yang mengalir, lembut namun menembus hati. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com