Beritabanten.com — Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun ini menjadi pengingat keras bahwa persoalan pendidikan di Indonesia belum selesai. Di balik tingginya angka partisipasi sekolah dan gelar akademik, terselip krisis yang lebih mendasar: rendahnya disiplin di ruang publik.

Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Siti Napsiyah Arifuzzaman, menyoroti fenomena ini melalui peristiwa kecelakaan kereta api di Bekasi serta maraknya aksi nekat masyarakat yang menerobos palang perlintasan.

“Setiap kali palang kereta tertutup dan sirine berbunyi, seharusnya siapapun berhenti. Namun yang sering terjadi justru sebaliknya—ada yang mempercepat laju, menerobos, bahkan mempertaruhkan nyawa,” ujar Siti dalam keterangannya, Sabtu (2/5).

Menurutnya, peristiwa tersebut bukan sekadar kecelakaan biasa, melainkan sinyal bahaya tentang kegagalan pendidikan dalam membentuk perilaku dasar masyarakat.

“Hari Pendidikan Nasional semestinya menjadi ruang muhasabah, bukan sekadar seremoni. Kita perlu jujur bertanya, mengapa banyak orang terdidik masih gagal tertib?” katanya.

Siti menggambarkan realitas di lapangan sebagai potret yang mengkhawatirkan. Di perlintasan kereta, jalan raya, hingga stasiun, aturan sering kali dikalahkan oleh ego dan ketergesaan.

“Kita tahu aturan, kita paham risiko. Kita mengerti bahwa kereta tidak bisa berhenti mendadak. Namun pengetahuan itu berhenti di kepala—tidak turun menjadi perilaku,” ujarnya.

Pembiaran Pelanggaran Kecil

Ia memperingatkan bahwa pembiaran terhadap pelanggaran kecil dapat menjadi bom waktu. Ketika tindakan berbahaya dianggap lumrah, maka tragedi hanya tinggal menunggu saatnya.

“Ketika menerobos palang dianggap biasa, maka kecelakaan hanya soal waktu. Kita sedang merawat budaya permisif tanpa sadar,” ucapnya.

Dalam pandangannya, pendidikan saat ini belum sepenuhnya menyentuh inti pembentukan karakter. Padahal, nilai-nilai dasar seperti disiplin, kesabaran, dan tanggung jawab sosial justru menjadi fondasi utama kehidupan bermasyarakat.

“Menahan diri di depan palang kereta bukan sekadar kepatuhan teknis, tetapi latihan nilai. Menghormati antrean adalah keadilan, dan menjaga keselamatan adalah tanggung jawab moral,” jelasnya.

Siti menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada transfer ilmu semata. Tanpa pembentukan adab, ilmu justru kehilangan makna dalam kehidupan nyata.

“Jika kita masih gagal tertib di jalan, maka yang bermasalah bukan hanya lalu lintas, tetapi pendidikan kita,” katanya.

Ia pun mengingatkan bahwa krisis ini tidak bisa dibiarkan berlarut. Diperlukan langkah tegas dan kolaboratif dari seluruh elemen bangsa untuk memperbaiki keadaan.

“Peradaban tidak runtuh karena kurangnya orang pintar, melainkan karena terlalu banyak orang yang tahu, tetapi memilih tidak patuh,” pungkasnya. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com