Beritabanten.comPemkot Tangsel terus memperkuat komitmennya dalam memberantas tuberkulosis (TBC). Dengan capaian dan semangat kolaboratif yang terus dijaga, Kota Tangsel diharapkan mampu menjadi kota bebas TBC sebelum tahun 2030 sesuai dengan target nasional dan global.

Tren penanganan TBC di Kota Tangsel yang terus meningkat signifikan ini menjadi bagian dari langkah besar menuju target eliminasi TBC pada 2030, sesuai dengan visi nasional dan global.

Guna mewujudkan Tangsel Bebas TBC di 2030, Pemkot melalui Dinas Kesehatan Tangsel juga terus melakukan berbagai terebosan program inovatif dan menggencarkan edukasi agar pasien menjalani pengobatan hingga tuntas, mengingat pengobatan TBC minimal memerlukan waktu enam bulan tanpa putus.

Deklarasi RW Bebas TBC di Kota Tangsel.

Deklarasi RW Bebas TBC

Pada Rabu, 30 Juli 2025, Dinkes Tangsel mendeklarasikan RW 02, RW 03 dan RW 09 di Kelurahan Benda Baru, Kecamatan Pamulang menjadi RW Bebas TBC.

Kepala Dinkes Kota Tangsel dr. Allin Hendalin Mahdaniar mengatakan, pembentukan RW Bebas TBC itu merupakan langkah perjuangan bersama untuk memberantas TBC di kewilayahan.

Allin menerangkan, dari data yang dimiliki terdapat sekira 3.000 lebih penderita TBC di Kota Tangsel. Jumlah tersebut merupakan hasil kerja keras di kewilayahan dan puskesmas dalam mendeteksi penderita TBC di wilayah.

“Dengan ditemukan kasus TBC secara dini, kita tentu bisa mengobati dan memutus rantai penularan TBC,” terang Allin.

Allin menuturkan, di RW Bebas TBC tersebut, masyarakat berperan serta untuk membangun pemberdayaan dan keguyuban masyarakat. Hal ini, bagian penting untuk melakukan deteksi dini dan menghilangkan stigma ke penderita TBC.

“Harapannya stigma ke penderita TBC ini tidak akan ada lagi di Tangsel. Sehingga akan mempercepat penyembuhan penderita TBC. Pencegahan penularan TBC ini butuh dukungan dari berbagai pihak. Mulai dari dukungan keluarga, masyarakat dan kewilayahan,” tuturnya.

10 Persen RW Bebas TBC hingga akhir 2025

Lebih lanjut dr Allin menargetkan, pihaknya akan mendeklarasikan 10 persen RW Bebas TBC hingga akhir 2025 ini. Dia optimistis, akan membentuk RW Bebas TBC melampaui target lantaran antusiasme masyarakat di kewilayahan cukup tinggi.

Selain melalui program RW Bebas TBC, Dinkes Tangsel juga gencar menggalakan program lain untuk memberantas TBC. Mulai dari pekan investigasi kontak, jemput bola dan lakukan Mantuk TBC untuk deteksi dini kepada anak-anak.

“Banyak inovasi untuk kegiatan mencegah kasus dan menutus mata rantai TBC ini,” ungkap Allin.

Allin beraharap, dengan roadmap penanganan TBC yang ada dapat mewujudkan target Tangsel Bebas TBC pada 2030.

“Tahun 2030 tentunya Tangsel harus bisa eliminasi kasus TBC dimulai dari lingkungan kewilayahan. Antusias warga untuk deklarasikan RW Bebas TBC tinggi, mudah-mudahan ini awal baik untuk sama-sama menyelesaikan penularan TBC,” pungkasnya.

Kepala Dinkes Kota Tangsel dr. Allin Hendalin Mahdaniar.

Masifkan Ngider Sehat dan CKG

Masih menurut dr. Allin Hendalin Mahdaniar, tim kesehatan kini secara rutin melakukan skrining dan investigasi kontak di lingkungan pasien TBC, terutama di kalangan kontak serumah dan kontak erat.

“Salah satu strategi kami adalah melalui kegiatan Ngider Sehat dan Cek Kesehatan Gratis (CKG), baik yang digelar di fasilitas kesehatan maupun langsung mengunjungi warga,” ujar Allin.

Melalui kegiatan Ngider Sehat, tim medis melakukan skrining dan investigasi kontak terhadap pasien TBC yang telah terdata, terutama kepada kontak serumah dan kontak erat.

Bagi mereka yang tidak bergejala, akan diberikan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT), sementara yang menunjukkan gejala langsung diarahkan menjalani pemeriksaan seperti Tes Cepat Molekuler (TCM) atau rontgen.

TCM biasanya digunakan untuk mengetahui apakah kontak tersebut sudah mendapatkan penularan dari indeks kasus. (Adv)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com