Beritabanten.com – Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjadi sorotan dan menerima kritikan tajam dari warganet usai menyampaikan pandangannya tentang bonus demografi dan menyebut keberhasilan film Jumbo dalam video monolog di kanal YouTube pribadinya.

Dalam video tersebut, Gibran menjelaskan bahwa Indonesia diperkirakan akan mencapai masa puncak bonus demografi pada tahun 2030 hingga 2045. “Indonesia akan mendapatkan puncak bonus demografi pada tahun 2030 hingga 2045,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa fenomena ini hanya akan terjadi sekali dalam sejarah bangsa, ketika mayoritas penduduk berada dalam usia produktif.

“Sebuah kondisi yang terjadi hanya satu kali dalam sejarah peradaban sebuah bangsa. Kesempatan ini tidak akan terulang, di mana sekitar 208 juta penduduk berada di usia produktif,” jelasnya, dikutip media dari akun Youtube, Senin 21 April 2025.

Menurut Gibran, situasi tersebut merupakan peluang besar yang harus dikelola dengan baik agar benar-benar memberikan dampak nyata bagi masa depan Indonesia. “Agar bukan menjadi sekedar bonus, sekedar angka statistik yang fantastis, tapi sebagai jawaban untuk masa depan Indonesia,” katanya.

Di bagian lain monolognya, Gibran menyinggung keberhasilan film Jumbo karya animator muda Ryan Adriandhy. Ia menyebut keberhasilan film tersebut sebagai tonggak baru bagi industri animasi nasional. “Akan ditayangkan di 17 negara Asia dan Eropa, ini menjadi era baru industri animasi Indonesia,” ucap Gibran.

Ia juga menyebut bahwa film Jumbo telah ditonton lebih dari 4 juta penonton, dan menilai ini sebagai bukti bahwa anak muda Indonesia memiliki potensi luar biasa. “Suksesnya film animasi karya Ryan Adriandhy ini merupakan era baru industri film animasi Indonesia,” katanya.

Namun, pernyataannya tersebut justru memicu reaksi negatif dari sejumlah warganet yang merasa Gibran mencoba mengambil kredit dari keberhasilan yang dicapai sineas muda tersebut. Kritikan muncul di berbagai platform media sosial seperti X (dulu Twitter) dan kanal YouTube miliknya.

Beberapa komentar pedas dari warganet di antaranya menyindir peran Gibran dalam kesuksesan film tersebut. “Jumbo sukses, doi ikutan takes credit. Ga ikut bikin tapi bikin sebel,” tulis seorang warganet.

Ada pula yang menyinggung posisi Gibran sebagai wakil presiden yang dinilai banyak pihak sebagai hasil manuver politik sang ayah, Presiden Joko Widodo. “Untuk ukuran orang yang dicariin kerjaan sama bapaknya sampai mengacaukan konstitusi negara, ngomongin masa depan kayaknya terlalu berlebihan buat Anda,” tulis warganet lainnya.

Komentar sinis lainnya menyebut monolog Gibran sebagai sesuatu yang kontradiktif.

“Video (monolog) ini sangat ironis. Anak muda ngomongin bonus demografi disaat dia sendiri dicarikan kerjaan oleh bapaknya dengan acak-acak mahkamah konstitusi,” ujar pengguna lain.

Ada juga yang membandingkan budaya malu di negara lain dengan situasi saat ini. “Anak-anak di Jepang diajari malu sejak kecil biar gedenya tau diri dan punya rasa malu,” sindir seorang warganet. (Azk)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com