Kalimat yang lahir dari konstruksi kata-kata yang tepat dan efektif akan membawa dampak luar biasa. Baik bagi yang mengucapkannya terlebih bagi mendengarkan.
Akan ada efek produktif pada tindakan sesuai dengan makna yang ada dalam kalimat itu. Dia bisa mengubah seseorang bahkan negara bangsa di muka bumi ini.
Adalah Sang Nabi, seorang bernama Muhammad yang sedari kecil sudah mengalami nasib yatim sampai piatu. Mengalami pengalihan pengasuhan dari satu sanak saudara ke yang lainnya.
Tapi dia terkenal sangat cakap menempatkan kata dalam kalimat yang jadi alat dialog dengan sesama. Sampai memasuki babak dewasa di mana mampu berdagang ke belahan jazirah Arab.
Seorang janda kaya raya bernama Siti Khodijah yang berawal dari kepercayaan pada kalimatnya, kerja sama perniagaan sampai besedia dipersunting oleh Nabi.
Padahal banyak saudagar kaya raya yang bermimpi bisa berdampingan dengan Siti Khodijah. Selain soal harkat dan martabat sang janda juga mengidamkan hartanya yang melimpah ruah.
Itulah tarikan klasik zaman kenabian atas kekuatan kata-kata dalam diri seseorang, masyarakat. Nabi bukan hanya sempurna untuk dirinya tapi mengangkat bangsa arab terpandang di belahan dunia.
Negeri yang konon dijuluki jahiliyyah menjadi penuh pesona harmoni dan sinergi untuk potensi insani. Lewat kata-katanya juga kita menyaksikan lembaran kitab suci dan ribuan hadis yang memandu peradaban muslim hingga sekarang.
Kekuatan kata-kata yang tidak jauh beda sering kita temukan dalam kehidupan sehari-hari di sekeliling kita melewati semua tingkat profesinya.
Semisal kemahiran persuasif seorang sales sepatu selalu memiliki hasil penjualan sepatunya di atas rata-rata penjualan normal sales lainnya.
Bahkan orasi perjuangan Bung Hatta mampu mengobarkan semangat para pejuang untuk melawan penjajah merebut kemerdekaan.
Retorika ilustrator seorang ulama kondang dengan ceramah nasehatnya mampu memukau ribuan para jemaah hingga berdecak kagum.
Mereka semua adalah contoh nyata bahwa kata-lata memiliki kekuatan sehingga dapat mengubah dari kondisi yang tidak mungkin (zero) menjadi kondisi yang mungkin (hero).
Namun ibarat kalimat motivasi bahwa upaya tidak pernah membohongi hasil. Apa yang jadi pijakan dalam menggunakan kata-kata dalam setiap usah pasti berhubungan kuat dengan proses yang dijalani.
Hal ini dimaksudkan bahwa kepandaian menggunakan kata-kata dalam mempengaruhi lawan bicara tidaklah datang begitu saja. Dia mengalami proses yang terukur dan terencana dalam setiap menggunakannya.
Keahlian ini harus senantiasa diasah sehingga memerlukan langkah-langkah nyata yang harus dikerjakan. Berikut sedikit dari sekian banyak yang biasa dipakai banyak orang dalam melatih menggunakan kalimat secara efektif dan terarah.
- Sabar dan pandai menjadi pendengar yang baik.
- Fokus dan mempersempit serta mempertajam topik penyampaian mengarah pada (closing) keberhasilan tujuan yang ingin dicapai.
- Tidak membatasi ide-ide dan kreativitas yang didapat dari hikmah pengalaman atau dari hal-hal baru buah hasil pemikiran.
- Melatih otot kreativitas dalam memperoleh cara efektif komunikasi secara lisan maupun tulisan.
Beberapa syarat menyertai jika kata-kata dapat dikatakan memiliki kekuatan di antaranya adalah
- Kata-kata itu merupakan bukti kebenaran dari suatu fakta kejadian yang sudah terjadi
- Kata-kata yang keluar dari seorang panutan masyarakat karena suri teladan.
- Kata-kata yang menggambarkan keberhasilan seseorang dan merupakan testimoni pihak lain yang telah merasakan manfaat dengan tujuan untuk memotivasi orang lain.
Selamat mencoba dan semoga berhasil untuk menjadi orang sukses, dengan kata-katamu memberikan kenyamanan, semangat berjuang, menentramkan semua orang bagi yang mendengar, melihat atau membacanya.
Penulis: Deni Nuryadin Komisioner BAZNAS Kota Tangsel
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan