Beritabanten.com – Sound Horeg adalah sound system yang disusun cukup tinggi hingga lebih 5 meter dan dirangkai dengan rangka besi agar bisa dibawa keliling, diangkut dengan kendaraan pick up atau truk.
“Horeg” berasal dari kata slank Jawa Timur yang artinya “bergetar”, karena sound yang dihasilkan dari Sound Horeg memang bisa menggetarkan barang di sekitarnya.
Sound Horeg ini biasanya sering disewakan untuk acara karnaval di jalan raya atau pernikahan, kadang pula para pemain musiknya beserta penyanyi memainkan musik dengan berkeliling kampung.
Keteneran acara sound semasif pagelaran DWP (Djakarta Warehouse Project) ini umumnya dapat ditemukan di Malang, Jawa Timur.
Dentuman suara menggelegar, sorot lampu warna-warni yang liar, dan goyangan manusia usia menengah yang mengikuti irama.
Menurut standar World Health Organization (WHO), desibel suara yang direkomendasikan aman tidak boleh lebih dari 70 desibel, jika lebih dari itu dan terpapar hingga 4-8 jam sudah dikatakan tidak baik untuk kesehatan dan bisa menyebabkan gangguan pendengaran.
Sementara itu, suara yang dihasilkan dari Sound Horeg sendiri bisa melebihi 130 desibel, hampir dua kali lipat dari batas sewajarnya.
Banyak terjadi kasus ketika rombongan Sound Horeg ini lewat suatu pemukiman bisa membuat banyak kaca-kaca jendela atau barang di rumah bergetar, retak bahkan sampai pecah karena sound ini.
Secara sepintas kehadiran Sound Horeg ini memang memberikan hiburan yang terjangkau bagi segelintir orang daripada harus datang ke sebuah konser musik dengan tiketnya mahal.
Para penikmat Sound Horeg ini sepertinya tak peduli dengan keadaan orang di sekitarnya, dengan anak bayi, lansia, juga jendela rumah yang retak karena ulah sound ini.
Perlu solusi agar sekiranya Sound Horeg bisa tetap dinikmati namun tak mengganggu lingkungan di sekitarnya, entah dengan menggelarnya di lapangan terbuka atau mengatur desibel suaranya secara wajar. [Mg-2]
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan