PERNAHKAH membayangkan seandainya semua orang mempunyai rasa empati dan kasih sayang kepada semua orang yang kurang beruntung yang didasarkan pada keinginan untuk membantu memecahkan masalah mereka secara ikhlas.
Maka sudah bisa dibayangkan dunia ini penuh orang-orang baik yang saling menguatkan, mengisi, melengkapi dan melindungi. Ibarat jaring tambang yang saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya.
Persaudaraan dimuka bumi ini tidak lagi didasarkan pada keturunan, kelompok dan lain-lainnya, melainkan persaudaraan didasarkan atas bagaimana memuliakan sesama manusia sebagai ciptaan Allah, dengan kata lain hal ini beriringan dengan hadis riwayat Imam Bukhari No. 7376 berisi tentang peringatan bahwasanya orang yang tidak menyayangi sesama manusia tidak akan disayangi oleh Allah.
Di hadist lain di katakan Rasulullah SAW mengajarkan kepada umatnya untuk menyayangi siapapun yang ada di muka bumi. Sebagaimana sabda beliau,
ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمُكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ.
Artinya :
Sayangilah siapa yang ada di muka bumi, niscaya kamu akan disayangi oleh siapa saja yang ada di langit” (HR At-Tirmidzi no. 1924).
Agama Islam adalah agama yang mengajarkan kepada manusia untuk memberikan kasih sayang kepada seluruh ciptaan-Nya.
Lalu bagaimana sebaliknya kondisi manusia di sebagian muka bumi lainnya, justru saling mendzolimi sehingga kemudharatan terjadi dimana-mana. Penyebabnya adalah karena manusia banyak yang telah meninggalkan ajaran Tuhan, kasih sayang dengan balutan kebebasan disalahartikan pada hal-hal yang tidak substantif sesuai ajaran Tuhan,
Menggunakan dalih pembenaran dalam rangka memperjuangkan kelompoknya justru mendzolimi kelompok manusia lainnya, seperti adanya peperangan dan LGBT serta lain-lain
Apa yang dilakukan semua itu pada ujung hilirnya adalah kepentingan duniawi dan kesenangan semata. Manusia sedang menggali lubang kehancurannya sendiri sebagaimana
Al-Qur’an di dalam surat Al-A’raf ayat 85 menjelaskan firman Allah SWT di bawah ini:
وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۗ قَالَ يَٰقَوْمِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُۥ ۖ قَدْ جَآءَتْكُم بَيِّنَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ ۖ فَأَوْفُوا۟ ٱلْكَيْلَ وَٱلْمِيزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا۟ ٱلنَّاسَ أَشْيَآءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَٰحِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
Artinya: Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangin bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman”.
Di sisi lain Islam telah memberikan panduan dalam berbuat kasih sayang yang hakiki kepada manusia lainnya yakni dengan adanya perintah kepada manusia untuk menunaikan zakat dan perbuatan kebajikan lainnya serta meninggalkan larangan-Nya. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Bayyinah ayat 5:
وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ
Artinya: “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (Qs. Al-Bayyinah:5).
Di surat lain, di dalam perspektif makro, manusia diperintah Allah untuk memperjuangkannya :
خُذْ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَوٰتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Artinya: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,” (Qs. At-Taubah:103).
Kata ‘ambilah’ di dalam ayat ini memiliki makna perintah berjuang mewujudkannya, baik dilihat secara perspektif mikro dan makro, adapun secara makro surat ini diperuntukkan bagi khalifah (zaman nabi) atau (saat ini) para pemegang kekuasan atau pemimpin untuk menjalankan perintah mengambil zakat dari orang-orang kaya
Adapun pemegang kekuasaan dalam konteks jama’ dimaksudkan yakni perwakilan rakyat legislatif (pembuat undang-undang) dan pelaksana kekuasan eksekutif (mulai dari presiden sampai rukun tetangga) berjalan dengan kompak dan selaras untuk menciptakan ekosistem yang kondusif dalam mendorong terlaksananya perintah Allah untuk manusia berzakat, berinfaq dan bersedekah dapat berjalan dengan baik dan lancar sesuai syariah, (aman syar’i, aman regulasi dan aman NKRI)
Ayat ini juga menjelaskan faedah berzakat bagi orang yang melaksanakannya adalah bahwa zakat dapat sebagai pembersih, mensucikan dan menentramkan jiwa.
Sedangkan perintah Allah bagi manusia untuk menjadi manusia sholeh secara individu atau dalam perspektif mikro, sesuai firman Allah di bawah ini:
وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَارْكَعُوْا مَعَ الرّٰكِعِيْنَ
Artinya: “Dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang yang rukuk.” (Qs. Al-Baqarah:43).
Kalau sudah jelas sedemikian rupa seperti di atas, kenapa kita musti ragu yuk mari kita berzakat, berinfaq dan bersedekah.
Semoga kita semua diberikan kemudahan dalam menerima hidayah nasehat, ilmu dan kebaikan. Aamiin YRA
Penulis: Deny Nuryadin, Komisioner BAZNAS Tangsel. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan