Beritabanten.com – Kesehatan mental merupakan faktor krusial dalam kehidupan seseorang yang dapat mempengaruhi berbagai aspek perilaku, keputusan, dan interaksi sosial.
Kasus pria yang melakukan aksi bakar diri di Tangerang Selatan menggambarkan dampak serius ketika tekanan psikologis dan emosional tidak dikelola dengan baik.
Secara keilmuan, tindakan seperti ini sering kali berkaitan dengan kondisi mental yang tidak stabil, di mana individu merasa putus asa atau tidak melihat jalan keluar dari masalah yang dihadapi.
Dalam psikologi klinis, stres yang tidak tertangani, terutama yang berhubungan dengan konflik interpersonal seperti pertengkaran dengan pasangan, dapat memicu respons emosional yang ekstrem.
Teori stres menyatakan bahwa ketika seseorang tidak memiliki strategi koping (mekanisme untuk menghadapi tekanan) yang efektif, ia dapat merasa terjebak dalam situasi yang tampak tidak memiliki solusi.
Hal ini dapat memicu tindakan berbahaya, termasuk upaya bunuh diri.
Tindakan bakar diri, dalam konteks psikopatologi, sering kali dipandang sebagai bentuk perilaku impulsif yang ekstrem, yang muncul akibat ketidakmampuan individu untuk mengelola emosinya secara sehat.
Dari perspektif neuroscience, stres berat dapat mempengaruhi kerja otak, terutama pada sistem limbik yang mengatur emosi, dan mengurangi kemampuan kognitif seseorang untuk berpikir rasional.
Pada saat-saat kritis, korteks prefrontal, bagian otak yang bertanggung jawab untuk pengambilan keputusan, dapat mengalami disfungsi karena tekanan emosional, sehingga seseorang lebih mungkin bertindak tanpa pertimbangan matang.
Selain itu, dalam teori bunuh diri yang diajukan oleh Thomas Joiner, ada tiga komponen utama yang berkontribusi pada ide bunuh diri: perasaan menjadi beban, perasaan keterasingan, dan kemampuan untuk melakukan tindakan fatal.
Dalam kasus pria ini, konflik rumah tangga mungkin menimbulkan perasaan keterasingan dan putus asa yang intens, serta dorongan untuk menyakiti diri sendiri sebagai cara melarikan diri dari penderitaan emosional.
Gangguan Mental
Faktor lain yang harus diperhatikan adalah potensi adanya gangguan mental, seperti depresi berat atau gangguan kepribadian, yang sering kali memperburuk kemampuan individu untuk mengatasi konflik atau stres dengan cara yang sehat.
Kondisi seperti ini dapat memperlemah ketahanan mental dan meningkatkan risiko perilaku merusak diri.
Oleh karena itu, pendekatan yang diperlukan untuk mencegah kejadian seperti ini tidak hanya berfokus pada perawatan fisik setelah kejadian, tetapi juga pada pencegahan dan intervensi dini.
Pemahaman tentang pentingnya kesehatan mental dan akses terhadap dukungan psikologis perlu ditingkatkan, baik melalui konseling, terapi, maupun edukasi publik.
Selain itu, individu yang mengalami tekanan emosional perlu dibantu untuk mengembangkan mekanisme koping yang sehat, seperti melalui mindfulness, relaksasi, atau dukungan sosial yang kuat, guna mencegah tindakan impulsif yang berbahaya.

Korban Bakar Diri Meninggal
Sebelumnya, seorang pria melakukan aksi bakar diri di SPBU yang terletak di Jalan Raya Pondok Kacang, Pondok Aren, Tangerang Selatan, pada Rabu malam (2/10/2024).
Polisi telah berada di lokasi untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut. Pria berinisial S, berusia 39 tahun, mengalami luka bakar yang sangat serius hingga 80% di tubuhnya akibat tindakan nekat tersebut.
S yang melakukan aksi bunuh diri di depan SPBU itu menderita luka bakar parah.
“Kemarin dinyatakan meninggal dunia akibat luka bakar yang dialaminya,” ungkap Kapolsek Pondok Aren, Komisaris Muhibbur RA, pada Jum’at (4/10/2024).
Muhibbur menyebutkan bahwa S diduga menyiramkan cairan bahan bakar minyak ke tubuhnya sendiri.
“Karena masalah perselisihan rumah tangga,” jelasnya.
Beberapa sumber menyebutkan bahwa sebelum aksi tragis ini, S baru saja bertengkar dengan istrinya.
Pria tersebut akhirnya melakukan bakar diri di depan SPBU, di area dekat pedagang es teh manis. (azk)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan