Beritabanten.com Lepas sambut Kajari Kota Tangerang berlangsung meriah. Aula Pusat Pemerintahan dipenuhi senyum yang terlalu rapi, terlalu sempurna. Ucapan selamat terdengar seperti mantra, diulang-ulang agar kota ini tetap berjalan lurus.

Jabatan berpindah dari Muhammad Amin ke Pradhana Probo Setyarjo. Pradhana bicara tentang hukum yang menopang ekonomi. Kata-katanya melayang di udara seolah bisa menata proyek kota sendiri. Rakyat diminta membayangkan PAD naik, meski jalanan masih macet dan banjir menunggu di sudut-sudut kota.

Hukum bukan sekadar aturan. Ia dihidupkan sebagai tonggak kesejahteraan. Kejaksaan hadir di masyarakat seperti mata yang selalu mengawasi. Setiap rencana pemerintah diperiksa. Tidak ada yang luput dari pengawasan.

Wali Kota Tangerang, Sachrudin, tersenyum sambut Kajari baru. “Sinergi harus terus diperkuat,” katanya. Kata “sinergi” terdengar manis, tapi seperti kode untuk rapat panjang dan foto yang tersenyum sambil menunggu berita baik yang tak kunjung turun.

Kajari lama, Muhammad Amin, menutup masa jabatannya. PAD naik Rp30 miliar, katanya bangga. Angka itu terdengar manis, tapi warga bertanya-tanya. Apakah kenaikan itu benar terasa, di jalanan yang banjir dan macet, di trotoar yang lebih sering dijadikan tempat parkir liar daripada jalan pejalan kaki?

Lepas sambut ini simbol resmi hukum sebagai penopang pembangunan. Senyum tertangkap kamera, kata-kata “profesional, transparan, berintegritas” dikutip media. Semua terlihat indah, tapi ada ruang kosong di hati warga. Apakah mereka benar-benar merasakan indahnya kota ini? (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com