Beritabante.com – Tidak banyak tahu bahwa di antara bangkai kapal perang Iran yang karam di perairan Teluk Persia, Iran, ancaman lain justru bergerak senyap.

Tidak ada kapal perang besar milik Iran, hanya ada kapal kecil yang mampu bergerak cepat dan lincah yang oleh para analis dijuluki. Ia tampak seperti nyamuk yang terus mengintai mangsa di tengah ribuan kapal besar yang tersendat.

Armada ini menjadi tulang punggung Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), kekuatan militer yang terpisah dari angkatan laut reguler Iran. Dengan ukuran kecil dan mobilitas tinggi, kapal-kapal ini dirancang untuk mengganggu jalur pelayaran strategis, terutama di Selat Hormuz.

Selain manuver cepat, kekuatan armada ini terletak pada kemampuannya meluncurkan rudal dan drone, baik dari laut maupun dari titik-titik tersembunyi di daratan. Serangan yang dihasilkan kerap sulit dilacak, menciptakan tekanan konstan bagi lalu lintas maritim internasional.

Iran sebelumnya menyatakan akan menutup Selat Hormuz hingga tercapai gencatan senjata di Lebanon. Namun, pernyataan pejabatnya belakangan saling bertentangan. Militer Iran pada Sabtu menyebut jalur tersebut telah kembali “normal” dan berada dalam kendali ketat angkatan bersenjata.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump merespons dengan menyebut situasi di Hormuz “sudah berakhir”, meski menegaskan blokade terhadap pelabuhan Iran tetap diberlakukan hingga tercapai kesepakatan damai.

Menurut Saeid Golkar, pakar Garda Revolusi dari Universitas Tennessee di Chattanooga, strategi IRGC lebih menyerupai perang gerilya di laut. “Mereka tidak mengandalkan kapal besar atau pertempuran konvensional, melainkan serangan cepat dan mendadak,” ujarnya.

Dalam konflik terbaru, sedikitnya 20 kapal dilaporkan diserang, menurut data badan maritim Perserikatan Bangsa-Bangsa. Serangan-serangan ini diyakini menggunakan drone yang diluncurkan dari platform bergerak, meninggalkan jejak yang minim.

Sementara itu, militer Amerika Serikat mengklaim lebih dari 90 persen armada angkatan laut reguler Iran telah hancur. Sebagian kapal cepat milik Garda Revolusi juga dilaporkan tenggelam, meski jumlah pastinya tidak diungkap.

Perkiraan total armada “nyamuk” ini bervariasi—dari ratusan hingga ribuan unit. Jumlah yang sulit diverifikasi, namun cukup untuk menjaga ketegangan tetap tinggi di salah satu jalur pelayaran terpenting dunia. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com