Beritabanten.com- Pemerintahan Benyamin Davnie bersama Pilar Saga Ichsan memasuki fase baru dalam pembangunan Tangerang Selatan.

Setelah beberapa saat kemarin dihadapkan pada persoalan klasik pengelolaan sampah yang sempat menjadi sorotan publik, kini fokus pemerintahan bergeser ke tahap berikutnya: merapikan wajah kota secara menyeluruh.

Masalah sampah selama ini menjadi ujian serius bagi banyak kota penyangga metropolitan, termasuk Tangerang Selatan. Lonjakan volume sampah, keterbatasan tempat pembuangan, hingga pola konsumsi masyarakat yang belum sepenuhnya berkelanjutan membuat isu ini sulit ditangani dalam waktu singkat.

Namun, melalui kombinasi penataan sistem, peningkatan layanan, serta intervensi kebijakan dan hubungan baik dengan pemerintahan di kawasan, tekanan persoalan tersebut mulai bisa dikendalikan, meski belum sepenuhnya tuntas.

Dengan tekanan yang relatif mereda, Benyamin–Pilar kini mengarahkan perhatian pada aspek yang lebih luas: estetika, keteraturan, dan kualitas ruang kota. Ini bukan sekadar soal keindahan visual, tetapi juga menyangkut kenyamanan hidup warga.

Penataan trotoar, pengendalian kabel semrawut, penertiban bangunan liar, hingga revitalisasi ruang publik menjadi bagian dari agenda “merapikan kota” yang mulai digaungkan.

Dalam konteks ini, peran Pilar Saga Ichsan sebagai figur berlatar belakang arsitektur menjadi cukup menonjol. Pendekatan teknokratis yang ia bawa terlihat dalam upaya mendorong penataan berbasis perencanaan, bukan sekadar penertiban sesaat.

Kota tidak hanya ditata agar terlihat rapi, tetapi juga agar berfungsi lebih efisien mulai dari drainase, konektivitas jalan, hingga distribusi ruang publik yang lebih merata.

Sementara itu, Benyamin Davnie berperan menjaga stabilitas kebijakan dan kesinambungan program. Kombinasi keduanya mencerminkan pola kepemimpinan yang relatif pragmatis: satu sisi menjaga ritme pemerintahan tetap berjalan, sisi lain mendorong pembaruan di aspek teknis dan tata kota. Model ini menjadi penting di kota berkembang seperti Tangerang Selatan yang menghadapi tekanan urbanisasi tinggi.

Meski demikian, tantangan ke depan tidak kecil. Merapikan kota bukan pekerjaan instan. Ia menuntut konsistensi, koordinasi lintas sektor, serta keberanian mengambil keputusan yang kadang tidak populer seperti penertiban kawasan padat atau relokasi aktivitas informal.

Di sisi lain, partisipasi masyarakat juga menjadi kunci, karena tanpa perubahan perilaku, penataan fisik kota akan sulit bertahan lama.

Pada akhirnya, langkah Benyamin–Pilar ini bisa dibaca sebagai fase transisi: dari penanganan masalah dasar menuju peningkatan kualitas kota.

Jika persoalan sampah adalah soal bertahan, maka merapikan kota adalah soal melangkah maju. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah kota bisa bersih, tetapi apakah kota bisa tertib, nyaman, dan layak huni dalam jangka panjang. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com