Penulis: Alpin Bobotsari, Pemerhati Kebijakan Publik
Beritabanten.com – Keputusan PT Agrinas Pangan Nusantara membeli 105.000 mobil pikap Tata Motors, India, mengejutkan publik. Sejumlah unit bahkan sudah berlabuh di Pelabuhan Tanjung Priok, sementara masyarakat dan media hampir tidak diberi informasi sebelumnya.
Uang muka 30 persen telah dibayarkan, menimbulkan pertanyaan besar: mekanisme pembelian, sumber dana, dan pengelolaan distribusi mobil tersebut.
Keputusan ini menunjukkan BUMN bergerak cepat, namun menimbulkan paradoks. Alih-alih mendukung industri lokal, impor besar-besaran berpotensi melemahkan sektor manufaktur dalam negeri. Publik pun mempertanyakan akuntabilitas dan transparansi dalam proses yang begitu cepat dan besar ini.
Sosok Direktur Utama PT Agrinas, Joao Angelo de Sousa Mota, malah mengagetkan. Ia tetap menjabat meski sebelumnya hendak mundur karena birokrasi membelenggu, dan kini bertindak cepat untuk mengeksekusi rencana strategis perusahaan.
Mobil akan segera didistribusikan ke Koperasi Desa Merah Putih, menunjukkan respons nyata terhadap kebutuhan lapangan. Nah, sebenarnya Joao punya kesempatan yang benar-benar tepat untuk mundur sekarang. Karena pekerjaanya bikin heboh dan menyebalkan warga negara se-tanah air.
Yang heran: apakah Joao tidak menyadari risiko impor besar-besaran, seperti kesulitan suku cadang, layanan purna jual terbatas, dan ketergantungan pada produk luar negeri? Atau mungkin ia memang memprioritaskan rakyat, mencari mobil murah demi kepentingan publik, dengan semangat “cinta bangsa” versi pragmatis, hehehe.
Banyak detail operasional masih belum jelas: bagaimana mobil akan digunakan, mekanisme serah terima, dan dampak terhadap koperasi dan masyarakat penerima. Kecepatan harus dibarengi akuntabilitas agar keputusan besar ini tidak hanya spektakuler, tetapi juga bermanfaat secara berkelanjutan.
Kasus ini menjadi pengingat: BUMN harus bisa bergerak cepat, transparan, dan pro-nasionalisme, memastikan setiap kebijakan mendukung kepentingan industri lokal dan masyarakat luas, bukan sekadar angka atau headline berita. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan