Beritabanten.com – Adalah kerja Pemerintah Kota Serang, Kota Cilegon, dan Kabupaten Serang, menjadi bagian dari percepatan pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di wilayah Tangerang Raya.
Ini menyusul penandatanganan kesepakatan Gubernue Banten Andra Soni berlangsung di KP3B, Kota Serang, pada Jumat (27/3/2026), dan turut dihadiri Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq.
Inu menjadikan sampah tak lagi berhenti pada tumpukan di Tempat Pembuangan Akhir, tapi bergerak ke arah yang lebih ambisius: menjadi energi.
Karenanya, Pemerintah Kota Tangerang kini menatap masa depan pengelolaan limbah melalui skema waste to energy, sebuah pendekatan yang menjanjikan listrik dari sesuatu yang selama ini dianggap sisa.
Wali Kota Tangerang, H. Sachrudin, berdiri di antara para pemangku kebijakan saat komitmen pembangunan PSEL diteken. Baginya, ini bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan titik balik cara kota memperlakukan sampah.
“Penghentian open dumping bukan lagi pilihan, tapi keharusan,” ujarnya, saat menghadiri acara penandatangan itu, Jumat 25 Februari 2026.
Instruksi pemerintah pusat untuk menutup praktik lama itu menjadi pemicu percepatan. Kota-kota di kawasan aglomerasi Tangerang Raya kini didorong berlari lebih cepat, menyusul persoalan sampah yang kian menumpuk dari hari ke hari.
Namun, di balik ambisi teknologi, ada persoalan yang lebih sederhana—dan justru lebih menentukan: kebiasaan warga.
Sachrudin menekankan, transformasi ini tak akan berjalan tanpa partisipasi masyarakat. Memilah sampah dari rumah menjadi langkah kecil yang membawa dampak besar. Di sinilah, perubahan dimulai dari dapur, dari kantong plastik, dari keputusan sehari-hari yang kerap dianggap sepele.
Di tingkat nasional, Menteri Lingkungan Hidup RI, Hanif Faisol, melihat proyek ini sebagai bagian dari solusi jangka panjang. Ia menyebut angka yang tidak kecil: hingga 4.000 ton sampah per hari berpotensi diolah menjadi energi listrik di wilayah Tangerang Raya dan Serang Raya.
Angka itu bukan sekadar statistik. Ia adalah gambaran dari beban kota-kota modern—dan peluang yang menyertainya.
Namun, Hanif mengingatkan, teknologi bukan segalanya. Tanpa sampah yang terpilah, biaya pengolahan akan membengkak. Pada titik itu, beban justru bisa kembali ke masyarakat.
“Fondasinya tetap sama: sampah harus dipilah,” katanya.
PSEL, dengan segala kecanggihannya, tetap berpijak pada disiplin dasar. Ia tidak menghapus tanggung jawab individu, melainkan memperkuatnya.
Kota Tangerang mulai meniti langkah menuju energi dari sampah Jalan masih panjang, pembangunan fasilitas memerlukan waktu, dan tantangan teknis tak terelakkan. Tetapi arah sudah ditentukan.(Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan