Beritabanten.com – Langit malam di Tel Aviv berubah menjadi panggung cahaya dan dentuman. Jejak roket berpendar, berkelindan dengan kilatan sistem pertahanan udara.

Namun, di sela gemuruh itu, beberapa rudal tak terbendung terus meluncur lurus, menghantam kawasan yang selama ini dianggap aman: jantung ekonomi Israel.

Serangan terbaru Iran menandai eskalasi baru dalam konflik yang telah meluas sejak akhir Februari. Gelombang rudal diarahkan ke sejumlah kota, termasuk Tel Aviv, memicu ledakan, kebakaran, dan kepanikan warga sipil.

Di beberapa titik, proyektil jatuh di area permukiman dan bangunan kota. Api sempat berkobar di gedung hunian, sementara sirene meraung panjang, memaksa warga berlarian ke bunker.

Sistem Pertahanan Kropos

Israel selama ini mengandalkan sistem pertahanan berlapis—mulai dari Iron Dome hingga Arrow— yang kerap dipuji sebagai salah satu yang paling canggih di dunia. Namun serangan kali ini menunjukkan celah yang tak bisa diabaikan.

Dalam satu insiden, rudal balistik Iran berhasil lolos dari intersepsi dan menghantam wilayah dekat fasilitas sensitif, menimbulkan korban dan kerusakan.

Para analis menyebut, tak ada sistem pertahanan yang benar-benar kedap. Faktor teknis, keputusan operasional dalam hitungan detik, hingga keterbatasan jumlah interceptor, membuka peluang bagi “satu atau dua” rudal untuk menembus.

Dan dalam perang modern, satu saja sudah cukup untuk mengubah narasi.

Iran menyebut serangan diarahkan ke “target di jantung Tel Aviv”—frasa yang sarat makna simbolik.

Tel Aviv bukan sekadar kota. Ia adalah pusat bisnis, teknologi, dan wajah global Israel. Menghantamnya berarti mengirim pesan: tidak ada tempat yang benar-benar aman.

Dalam beberapa gelombang serangan sebelumnya, rudal juga diarahkan ke kompleks pemerintahan dan fasilitas militer di kawasan metropolitan itu.

Perang Makin Melebar

Serangan ini bukan berdiri sendiri. Ia bagian dari rangkaian aksi saling balas antara Iran dan Israel yang kini menyeret kawasan lebih luas, dari Lebanon hingga Teluk.

Israel meningkatkan serangan udara ke wilayah Iran dan sekutunya, sementara Teheran merespons dengan kombinasi rudal dan drone.

Di tengah eskalasi, jumlah korban terus bertambah, dan kekhawatiran akan perang regional kian nyata.

Secara angka, Israel masih mampu mencegat sebagian besar serangan—klaimnya mencapai lebih dari 90 persen.

Namun perang tidak hanya soal statistik. Ia juga soal persepsi.

Ketika satu rudal berhasil menembus dan menghantam pusat kota, yang runtuh bukan hanya bangunan, tetapi juga rasa aman yang selama ini dijaga ketat.

Suara ledakan di Tel Aviv selama ini seolah menegaskan satu hal: bahkan sistem terbaik pun memiliki batas. (Red)

 

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com